PROGRAM PEMBERDAYAAN KADER DALAM PENCEGAHAN DBD DI DUSUN
JUBEL DESA BANTUR KECAMATAN BANTUR
Yuyud Wahyudi
Abstrak
Berdasarkan data profil kesehatan Indonesia pada tahun 2020 terdapat 71.633 kasus kesakitan demam berdarah dengan jumlah sebanyak 459 orang, sedangkan jumlah kasus tahun 2019 terdapat 112.954 kasus kesakitan dengan jumlah kematian sebanyak 751 orang (Kemenkes, 2020). Jawa Timur merupakan Provinsi ke 3 setelah Jawa Barat (15.372 kasus), Bali (9.330 kasus), Jawa Timur (7.248 kasus). Di Jawa Timur wilayah yang menduduki peringkat pertama yaitu Kabupaten Malang dengan jumlah kasus DBD pada tahun 2019 yaitu sebesar 791 penderita dan tahun 2020 sebanyak 1.265 penderita (Kemenkes, 2020). Salah satu upaya yang cukup banyak digunakan yakni dengan menerapkan Health Belief Model (HBM) untuk menggambarkan perilaku individu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh program pemberdayaan kader dalam pencegahan Demam Berdarah Dengue di Dusun Jubel Desa Bantur Kecamatan Bantur Kabupaten Malang. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada 15 Januari – 19 Februari 2022. Penelitian ini menggunakan rancangan rangkaian waktu (control time series design) yaitu dengan menggunakan serangkaian observasi (test). Setelah dilakukan uji paired sample t-test didapatkan hasil
bahwa perbedaan perilaku sebelum dan sesudah dilakukan pemberdayaan kader terhadap pencegahan DBD yaitu sebesar p
Value 0,046 (a<0,05) artinya terdapat pengaruh pemberdayaan kader dalam pencegahan DBD, dan dilakukan uji pre eksperimen didapatkan hasil rata-rata perilaku dengan kategori kurang sebanyak 6 orang (50%) dan ketegori cukup sebanyak 6 orang (50%) dan hasil setelah post eksperimen dengan kategori kurang sebanyak 4 orang (33,3%) dan kategori cukup sebanyak 8 orang(66,7%). Sehingga pemberdayaan kader merupakan salah satu cara pencegahan DBD yang bertujuan untuk menurunkan terjadinya DBD di Dusun Jubel Kecamatan Bantur.
REFERENSI
1. Ariani, A.P. 2016. Demam Berdarah Dengue (DBD). Yogyakarta : Nuha Medika
2. Arikunto. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Rineka Cipta. Jakarta
3. Cook G, Alimuddin LZ. 2019. Manson’s tropical diseases 22nd ed. Philadelphia: Saunders Elsevier
4. Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2009, Program Peningkatan Peran Serta Masyarakat dalam Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue (PSN-DBD) di Kabupaten/Kota, Dirjen P2M dan PL
Depkes RI. Jakarta
5. Dhamayanti, A. 2019. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Tindakan Keluarga dalam Pencegahan Penyakit Demam Berdarah di Kelurahan Kadipiro Kota Surakarta. Universitas Muhammadiyah Surakarta, pp. 1–15.
6. Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, 2015. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Timur Tahun 2015.
7. Ginanjar. 2008. Demam Berdarah. Yogyakarta: B-fist (PT. Bentang Pustaka).
8. Harsono, S. 2019. ‘METODE BIOKONTROL IKAN CUPANG (Betta splendens) SEBAGAI PENGENDALI VEKTOR PENYAKIT DBD DI KARTASURA KABUPATEN SUKOHARJO’, Jurnal Manajemen Informasi dan Administrasi Kesehatan (JMIAK), 2(2). doi: 10.32585/jmiak.v2i02.455.
9. Hastuti, Oktri. 2018. Demam Berdarah Dengue, Penyakit Dan Cara Pencegahannya. Yogyakarta: Kanisius.
10.Imron M, Munif A. 2010. MetodologiPenelitian Bidan Kesehatan. Jakarta. Sagung Seto.
11.Jayawardhana, A., Permana, R. A. and Kogoya, Y. 2015. Hubungan Perilaku Keluarga Dengan Pencegahan Kejadian Demam Berdarah Dengue ( DBD ) Di Kelurahan Jambangan Kota Surabaya. Hubungan Perilaku Keluarga
Dengan Pencegahan Kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Kelurahan Jambangan Kota Surabaya, 0231, pp. 55–65
12.Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2021. Modul Pengendalian Demam Berdarah Dengue. Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan RI, Jakarta
13.Misnadiarly. 2019. Demam Berdarah Dengue (DBD): Ekstrak Daun Jambu Biji Bisa untuk Mengatasi DBD. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
14.Mulyadi. 2007. Universitas Kristen Maranatha. PENGARUH PEMBERIAN TEPUNG TEMPE KEDELAI (Glycine Max (L.) Merrill) SELAMA MASA PREPUBERTALTERHADAP VIABILITAS SPERMATOZOA MENCIT JANTAN GALUR SWISS WEBSTER Antonius, 5(1983), 39–40.
15.Mutmainah, S., Prasetyo, E. and Sugiarti, L.
2017. ‘DAYA PREDASI IKAN CUPANG (Betta splendens) DAN IKAN GUPPY (Poecilia reticulate) TERHADAP LARVA INSTAR III NYAMUK Aedes aegypti SEBAGAI UPAYA PENGENDALIAN VEKTOR PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD)’, Jurnal Sains Natural, 4(2), p. 98. doi: 10.31938/jsn.v4i2.81.
16.Nadesul, Handrawan. 2017. Cara Mudah Mengalahkan Demam Berdarah. Penerbit Kompas: Jakarta
17.Notoatmodjo, Soekidjo. 2018. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka cipta.
18.Nursalam. 2017. Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
19. Palgunadi, B. U. and Rahayu, A. 2011. Dengue Aedes aegypti As Dengue Haemorrhagic Fever Vector. Lecturer Faculty of Medicine
20. Royhan, M. 2013. Perbedaan Jumlah Jentik Pada Tempat Penampungan Air Sebelum Dan Sesudah Diberi Ikan Nila
(Oreochromis Niloticus)(Studi Kasus Di Kelurahan Tembalang Kota Semarang), Skripsi, Universitas Negeri Semarang, Semarang.
21. Salim, M., Wurisastuti, T. and Nurmaliani, R. (2017) ‘BERDARAH DENGUE ( DBD ) DI KELURAHAN BATURAJA LAMA DAN SEKAR JAYA , KECAMATAN BATURAJA TIMUR , KABUPATEN OGAN KOMERING ULU ( OKU ), PROVINSI SUMATERA SELATAN Community Participation in Controlling of Dengue Haemorrhagyc Fever ( DHF ) in Baturaja Lama and ’, pp. 82–92.
22. Sari, M. and Novela, V. 2020. Pengendalian Biologi dengan Daya Predasi Berbagai Jenis Ikan terhadap Larva Aedes Aegypti di Wilayah Kerja Puskesmas Tigo Baleh. Jurnal Sehat Mandiri, 15(1), pp. 79–85. doi: 10.33761/jsm.v15i1.145.
23. Shafique, M. et al. 2019. Implementation of guppy fish (Poecilia reticulata), and a novel larvicide (Pyriproxyfen) product (Sumilarv 2MR) for dengue control in Cambodia: A qualitative study of acceptability, sustainability and community engagement. PLoS Neglected Tropical Diseases, 13(11), pp. 1 – 22. doi: 10.1371/journal.pntd.0007907.
24. Sitio A. 2008. Hubungan Perilaku Tentang Pemberantasan Sarang Nyamuk dan kebiasaan keluraga dengan kejadian demam berdarah dengue di kota Medan 2008.
25. Soedarto. 2015. Demam Berdarah Dengue
(DBD). Jakarta: Sagung Seto.
26. Sofiana, Lu‟lu. 2013. Uji Lapangan Ikan Sebagai Predator Alami Larva Aedes aegypti di Masyarakat (Studi Kasus di
Daerah Endemis DBD Kelurahan Gajahmungkur Kota Semarang). Unnes Journal of Public Health 2. Semarang
27. Sugiyono. 2015. Metode Penelitian Kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Bandung :
Alfabeta
28. Taviv, Y., Saikhu, A. and Sitorus, H. 2017. Pemantau Jentik dan Ikan Cupang di Kota
Palembang. Bul. Penelit. Kesehat. , 38(4), pp. 198–207. Available at: http://ejournal.litbang.depkes.go.id/index.ph p/BPK/article/view/126.
29. Wahyudewantara, G. 2017. Mengenal ikan cupang yang gemar bertarung. Warta Iktiologi, 1(1), pp. 28–32.
30. Wakhyulianto. 2017. Uji Daya Bunuh Ekstrak Cabai Rawit (Capsicum frutescensi)
Terhadap Nyamuk Aedes aegpypti. Universitas Negeri Semarang.
31. Wibowo, A. 2019. DESA PEDULI KEBERSIHAN DAN KESEHATAN DI ARJOWILANGUN KALIPARE- AT-TAMKIN
Volume I No . 1 Mei 2018. 2(2).
32. Wijaya, A. S. and Yessie Mariza Putri. 2013. KMB2 Keperawatan Medikal Bedah. in KMB 2 Keperawatan Medikal Bedah.
33. World Health Organization. 2010. Dengue:
Guidelines for Diagnosis, Treatment,
Prevention and Control 2009. WHO34. World Health Organization. 2011.
Comprehensive guidelines for prevention
and control Revised and expanded edition.
World Health Organization, Regional Office
for South-East Asia. 17-26
35. World Health Organization. 2021. Demam
Berdarah Dengue : Diagnosis, Pengobatan,
Pencegahan, dan Pengendalian. (Online).
(http://www.cnnindonesia.com/gaya
hidup/20160616170332-255-
138672/indonesia-peringkat-dua-negara
endemis-demam-berdarah/, diakses 13
Maret 2021)
Komentar
Posting Komentar