Community nursing practice education in Indonesia (an opinion)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Community nursing practice education in Indonesia
“an academic persepctive” Burden and challenge 21 century
Yuyud Wahyudi
WHO (2005) memprediksi bahwa pada abad 21 akan mengalami pertumbuhan yang cepat penyakit - penyakit kronis bagi populasi umat manusia. Hal tersebut terasa sangat kontras dengan kondisi yang terjadi sebelumnya, dimana penyakit - penyakit akut menjadi perhatian utama di hampir semua negara di dunia. Akan tetapi seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan kesadaran akan kesehatan komunitas seperti imunisasi, sanitasi, kesejahteraan ekonomi, dan meningkatnya literasi masyarakat berkontribusi dalam penurunan angka penyakit akut, sehingga angka harapan hidup akan relatif lebih lama.
Karena harapan hidup manusia akan menjadi relatif lebih lama diprediksi akan mengalami paparan kondisi yang meningkatkan resiko terhadap kejadian penyakit kronis. Hal ini dapat berhubungan dengan peningkatan populasi yang memiliki gaya hidup kurang sehat karena berbagai kemudahan yang diakibatkan oleh kemajuan teknologi disamping juga agresifitas promosi makanan cepat saji, dan substansi adiktif lain seperti alkohol yang sudah menjadi bagian dari gaya hidup manusia. (WHO,2002). sedentary life style behavour / inaktifitas fisik juga meningkatkan signifikansi kejadian penyakit kronis.
Menurut statistik kesehatan dunia tahun 2021 (WHO,2021) didapatkan informasi bahwa keberadaan penyakit menular (Communicable Diseases)dilaporkan telah menurun stabil sejak tahun 2000, namun demikian tetap bertanggung jawab atas kematian terhadap 18% kasus kematian didunia selama tahun 2019. Sementara itu, penyakit tidak menular (Non Communicable Diseases)dilaporkan menjadi sebagai penyebab kematian utama (7 dari 10 kematian)manusia didunia. Angka kematian yang diakibatkan oleh penyakit tidak menular terus menunjukkan peningkatan yang signifikan dari 60.8% pada tahun 2000 menjadi 73.6% di tahun 2019.
Di Indonesia, upaya pemenuhan target MDGs dirasa sangat jauh dari target (Utami & Sisca, 2015; Dharmayanti & Tjandararini, 2017). selanjutnya Dharmayanti & Tjandararini (2017)menyebutkan bahwa prevalensi masalah nutrisi setidaknya masih 19.6%, stunting masih sebesar 37.2%,BBLR 10.2%, ibu menyusui pada bayi rentang usia 6 bulan selama 24 jam terakhir sebesar 30.2%, sementara untuk kejadian penyakit menular (seperti TBC) sebesar 0.4%. Angka kejadian secara nasional untuk penyakit kronis dan tidak menular dirasa masih cukup tinggi yakni hiperternsi sebesar 25.8%, serangan jantung dan stroke sebesar 12.1% dan penyakit sendi sebesar 24.7%. Demikian kondisi di Indonesia membutuhkan penanganan serius dari berbagai kalangan termasuk tenaga kesehatan dan perawat pada khususnya untuk bersama mengatasi permasalahan kesehatan tersebut.
Tenaga kesehatan termasuk Perawat diseluruh dunia mempunyai peran sebagai aktor kunci suksesi SDGs melalui praktek keperawatan,kebijakan, riset dan pendidikan keperawatan berkelanjutan (Rossa et al,2019). Sementara itu, sejak tahun 2005 WHO telah mengidentifikasi beberapa kompetensi bagi tenaga kesehatan di abad 21 diantaranya adalah community /public health perspective. Dalam komponen tersebut dijelaskan bahwa tenaga kesehatan termasuk perawat harus memiliki kemampuan untuk 1) melakukan asuhan layanan kesehatan berbasis kelompok/populasi, 2)berfikir lingkup sistem, 3) bekerja diseluruh rangkaian proses layanan kesehatan, 4) bekerja pada layanan kesehatan primer (WHO,2005). Hal ini terutama membutuhkan, sumber daya keperawatan yang memiliki kompetensi tersebut.
Kuo (2021) menjelaskan bahwa lulusan perawat baik sarjana maupun pada jenjang yang lebih tinggi harus dibekali dengan kemampuan mengidentifikasi dan menangani segala isu terkait social determinant of health, promosi kesehatan, berpartisipasi dalam penanganan masalah kesehatan lingkup sistem dalam khususnya turut andil dalam pelaksanaan kebijakan - kebijakan terkait promosi dan pencegahan masalah kesehatan dimasyarakat. Perawat yang bekerja di lingkup komunitas harus memiliki pengetahuan dan kesadaran tentang konsep - konsep yang ada dikomunitas(Nunthaboot, 2006).
Pada prakteknya di Indonesia, perawat yang bekerja di lingkup komunitas masih dihadapkan pada berbagai masalah dasar diantaranya adalah lemahnya pemahaman terhadap rangkaian proses keperawatan komunitas yang juga disebabkan oleh kurang familier terhadap perencanaan program di komunitas, rendahnya frekuensi pelatihan dan pendidikan berkelanjutan tentang dasar asuhan keperawatan dan rendahnya pemahaman definisi dan peran perawat kesehatan komunitas (Susanto, Bachtiar, Turwantoko, 2019). Menurut temuan studi yang dilakukan oleh Widyarani et al. (2020) didapatkan bahwa perlu pembekalan kompetensi keperawatan komunitas bagi perawat di Indonesia meskipun tata peraturen terkait keperawatan kesehatan komunitas sedangd dalam proses perbaikaan di tataran pemerintah. Hal ini penting untuk diinisiasi tentunya semenjak para perawat sedang menempuh pendidikan profesional keperawatan.
Oleh karena itu bagi manajer atau pimpinan program pendidikan keperawatan dirasa sangat penting untuk memberikan penguatan penguatan pada arah dan sub spesifikasi lulusan yang sesuai dengan kajian - kajian diatas. Hal ini dapat dilakukan melalui penataan ulang kurikulum melalui penyusunan konsensus antara penyelenggara pendidikan keperawatan, harapan masayarakat atau pengguna, organisasi profesi dan pemerintah untuk menemukan keterpaduan antara penyelenggara dan pemenuhan kebutuhan perawat - perawat yang mampu membantu permasalahan - permasalahn di komunitas kelak. Selanjutnya, dan yang menjadi krusial adalah pentingnya ketersediaan program - program penunjang akademik yang mengarahkan kepada sub kompetensi keperawatan dan kesehatan dikomunitas melalui integrasi pembelajaran intra, ekstra maupun ko-kurikuler. Dan yang tidak kalah penting adalah ketersediaan sumber daya pengajar atau dosen dan praktisi yang dirasa mempunyai kapabilitas untuk mengampu pembelajaran tersebut.
Malang, 11 Januari 2022
“yuyud Wahyudi”
Ministry of health. 2006. Pedoman penyelenggaraan upaya keperawatan kesehatan masyarakat di puskesmas, Available at http://www.scribd.com /doc/188254454/KMK-279-2006-PERKESMAS pdf. Accessed 20 September 2015.
Utami NH, Sisca KPDd.2015. The risk of becoming overweight among stunted children aged 3-5 years in Indonesia. Indonesian Journal of Health Ecology.vol 14: hal273-83.
Dharmayanti I, Tjandararini DH. Identification of Indicators on Public Health Development (IPKM) to Increase Sub Index Value of Infectious Disease. Padjadjaran Nursing Journal. Vol 5:2 hal49- 57.
Widyarani, D., Susanto, T., Wahyuni, D., & Pham, H. T. T. (2020). Identifying community/public health nursing competencies in Indonesia: A modified Delphi method. Nurse Media Journal of Nursing, 10(3), 350-360.
Kuo, C.-P.; Hsieh, P.-L.; Chen, H.-M.; Yang, S.-Y.; Hsiao, Y.-L.; Wang, S.-L. Community Health Nursing Competency and Psychological and Organizational Empowerment of Public Health Nurses: A Cross-Sectional Survey. Healthcare 2021, 9, 993. https:// doi.org/10.3390/healthcare9080993
Rossa, et al, 2019.Nursing and midwifery advocacy to lead the United Nations Sustainable Development Agenda.Nursing Outlook. Elsevier Vol 67 issue 6. pages 628-641
World Health Organization,2017.Enhancing The Role Of Community Health Nursing For Universal Health Coverage. Human Resourches for Helath Observer Series No.18
World Health Organization,2021. World Health Statistic 2021: monitoring Health for SDGs, Sustainable Development Goals. World Health Organization 2021.Switzerland
World Health Organization,2005. Preparing a health care workforce for the 21st century, The Challenge Of Cronic Condition.
Susanto T, Bachtiar S, Turwantoko T. 2019. Performance of Public Health Nurses and Coverage of the Nursing Care Program by Community Health Centers in Jember, Indonesia. IJCBNM. 7(2):161-168. doi: 10.30476/IJCBNM.2019.44887.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar