crirical thinking in nursing
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Berpikir Kritis dalam keperawatan
Yuyud Wahyudi

“ Everything should be made as Simple as possible, but NOT Simpler – Albert Einstein”
- Latar Belakang
Perawat menghadapi berbagai situasi klinis, termasuk pasien, keluarga, dan profesional kesehatan lainnya, jadi penting untuk berpikir dengan bijak tentang setiap situasi.
Untuk berpikir secara intelektual, perawat harus mengembangkan pemikiran kritis secara kreatif, percaya diri, dan bijaksana saat mereka menangani setiap masalah dan pengalaman baru yang mempengaruhi pasien dengan pikiran terbuka. Perawat bertanggung jawab untuk membuat keputusan klinis yang tepat dan akurat. Pengambilan keputusan klinis adalah perbedaan antara perawat dan staf teknis. Perawat spesialis memiliki inisiatif untuk bertindak cepat ketika kondisi pasien memburuk, mengenali jika pasien mengalami komplikasi, dan mengatasinya (Potter & Perry, 2009).
Perawat membuat keputusan dalam setiap tindakan, dan perawat juga merencanakan dan melaksanakan asuhan. Efektivitas dan akurasi pengambilan keputusan membutuhkan pengetahuan tentang pengumpulan data dan keterampilan berpikir kritis.
Berpikir kritis dalam keperawatan merupakan bagian yang sangat penting dari tanggung jawab profesional dan salah satu penentu mutu keperawatan. Perawat dengan keterampilan berpikir kritis melakukan ini mempunyai sikap ingin tahu, berpikiran terbuka, rajin dan bijaksana (FeslerBirch, 2005; Ingram, 2008). Ignatavicius & Workman (2006) menemukan bahwa berpikir kritis adalah kemampuan yang diperlukan perawat untuk memberikan perawatan yang berkualitas, karena pemikiran kritis terkait erat dengan pengambilan keputusan dan evaluasi klinis yang tepat.
Melalui setiap komponen proses perawatan, perawat profesional menggunakan keterampilan dan sikap berpikir kritis untuk menentukan relevansi, kepentingan, dan keterkaitan data pasien serta memilih dan menerapkan perawatan yang tepat.
Alfaro LeFevre (2004) menemukan bahwa berpikir kritis merupakan faktor tunggal yang bisa menjadi sangat penting dalam menentukan apakah pengasuh berhasil dalam keperawatan. Selanjutnya Edwards (2003), Milik (2002), Simpson & Courtney (2002) sistem perawatan kesehatan saat ini menjadi lebih dan lebih kompleks, sehingga berbagai pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk perawat menjadi lebih beragam.
Berpikir kritis dalam praktik keperawatan merupakan proses pengambilan keputusan yang membutuhkan keterampilan kognitif untuk menganalisis, membedakan, mencari informasi, memberikan alasan logis, memprediksi dan menyampaikan pengetahuan (Lewis et al). ., 2007).
AlfaroLeFevre (2004) juga mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan indikator untuk mengidentifikasi tiga aspek pengetahuan, perilaku emosional, dan perilaku emosional.
- Definisi
Berpikir kritis adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan proses kognitif yang mengarahkan pemecahan masalah dan pengambilan keputusan. Ini adalah proses peningkatan pikiran yang mengubah cara berpikir proses untuk memastikan bahwa kesimpulan yang dicapai tepat, rasional dan menyeluruh (Black & Hawk, 2009). ).
LeMone & Burke (2008) mendefinisikan berpikir kritis sebagai kemampuan untuk menggunakan pemikiran divergen untuk menilai pentingnya informasi yang diterima, mempertimbangkan alternatif, dan menarik kesimpulan dari data relevan yang dikumpulkan.
Perawat harus mampu membedakan antara fakta dan non fakta sehingga keputusan untuk memecahkan masalah dapat dibuat secara sistematis dan logis. Kemampuan perawat untuk menjelaskan persamaan dan perbedaan dengan menggunakan informasi yang tidak relevan juga membantu untuk fokus pada situasi yang dihadapi perawat saat ini.
- Sikap dalam Berpikir Kritis
Menurut Facionate (2006), individu yang berpikir kritis melakukan kombinasi antara kemampuan kognitif dan kecenderungan emosional.
Kecenderungan emosional pemikir kritis meliputi rasa ingin tahu, sistematis, bijaksana, mencari kebenaran, analitis, berpikiran terbuka, dan percaya diri dalam menyajikan alasan dan penilaian (Scheffer & Rubenfeld, 2000; Simpson & Courtney, 2002).
Berpikir kritis terjadi ketika individu yang berprasangka buruk menghadapi masalah data yang tidak memadai dan mengembangkan strategi untuk menemukan solusi (Rogal & Young, 2008).
Menurut Paul, (1998) dan Christensen & Kenney, (2009), seseorang yang senantiasa berfikir kritis mempunyai karakteristik sebagai berikut
- Intellectual Humanity
Adalah batas kesadaran diri dan persepsi kemungkinan prasangka dan kerentanan terhadap prasangka. Perawat dan profesional medis tidak boleh mengklaim tahu lebih banyak daripada yang sebenarnya mereka ketahui.
- Keberanian Intelektual
Kesediaan untuk mendengarkan dan jujur dengan orang lain, bahkan jika mereka /pasien/ orang tidak menyukai kita. Dibutuhkan keberanian untuk berpikir dari sudut pandang orang lain, mengajukan pertanyaan, dan secara jujur menimbang kekuatan dan kelemahan pendapat Anda.
- Empati intelektual
Kemampuan menempatkan diri pada posisi orang lain dan mampu memahami sudut pandang dan penalaran orang tersebut.
- Integritas Intelektual
Keinginan untuk menerapkan pada pengetahuan memiliki standar bukti intelektual yang sama dengan yang diterapkan pada pengetahuan orang lain. Kejujuran diperlukan untuk menyelidiki dan mengakui kekurangan dan kontradiksi dalam pikiran, penilaian, dan perilaku seseorang.
- Keberlanjutan Intelektual
Keinginan untuk mencari wawasan dan kebenaran lebih lanjut dalam menghadapi kesulitan dan frustrasi. Butuh banyak waktu dan energi untuk menerima, meninjau, dan mendapatkan wawasan baru.
- Keyakinan pada Alasan
Keyakinan pada diri sendiri dan keinginan untuk mencari pemikiran rasional dan percaya bahwa orang lain dapat melakukannya.
- Rasa Keadilan Intelektual
Saya ingin memiliki standar intelektual yang sama dan mempertimbangkan perspektif orang lain agar tidak terpengaruh oleh kepentingan dan keuntungan diri sendiri atau orang lain.

- Proses berpikir kritis
Berpikir kritis juga memerlukan beberapa proses intelektual aktif yang penting untuk pengumpulan data, pengambilan keputusan, prioritas, pemecahan masalah, dan perencanaan pemberian perawatan. Proses ini (Christensen & Kenney, 2009):
- Penalaran dan penalaran yang masuk akal, logis
Menghubungkan bukti yang kuat, pengamatan, dan fakta untuk menarik kesimpulan dan membuat keputusan berdasarkan ketidaktahuan, kasih sayang, prasangka, atau keegoisan.
- Pemikiran reflektif
Luangkan waktu untuk menyelidiki dan menganalisis data yang secara akurat mengidentifikasi masalah pasien dan hasil kesehatan yang diinginkan. Kemungkinan langkah-langkah untuk mencapai hasil ini akan dipertimbangkan dan dibandingkan dengan kekuatan, risiko, dan kelemahan masing-masing ukuran. Perawat tidak hanya menarik kesimpulan, tetapi juga menimbang informasi yang sesuai untuk area di mana informasi itu digunakan.
- Pemikiran otonom
Pikirkan untuk dirimu sendiri. Jangan menerima atau memanipulasi pendapat orang lain. Pemikir otonom menganalisis informasi dan menentukan mana yang paling akurat dan dapat diandalkan.
- Berpikir kreatif
Buka landasan baru dan buat kesimpulan Anda sendiri dengan cara yang terarah dan terarah dalam mengasosiasikan dan mensintesis informasi. Berpikir kreatif adalah kemampuan untuk membangun hubungan, memindahkan informasi ke dalam situasi baru, merancang pilihan alternatif, dan menemukan solusi baru untuk masalah.
- Kesimpulan dan keputusan tentang tindakan
Ini mencakup analisis dan evaluasi bukti, perbandingan pilihan, kelemahan, risiko dan manfaat, dan keberhasilan dalam mencapai hasil akhir yang diinginkan.
- Penerapan Berpikir Kritis dalam Praktik Keperawatan
Menurut Pacione (2011) dan Potter & Perry (2009), berpikir kritis terdiri dari enam subkompetensi, dan aplikasinya dalam keperawatan adalah:
- Interpretasi
Interpretasi adalah proses memahami dan mengungkapkan makna atau makna dari berbagai pengalaman, situasi, data, peristiwa, penilaian, kesepakatan, keyakinan, aturan, prosedur, dan standar. Interpretasi mencakup sub-keterampilan dalam klasifikasi, pengkodean, dan penjelasan makna (Pacione, 2011). Menurut Potter & Perry (2009), penerapan interpretasi dalam keperawatan adalah mengumpulkan data secara sistematis.
- Analisis (analisis)
Analisis adalah proses mengidentifikasi hubungan antara pernyataan, pertanyaan, konsep, penjelasan, atau bentuk ekspresi lainnya untuk mengungkapkan keyakinan, penilaian, pengalaman, alasan, informasi, dan pendapat. Selain itu, juga dimaknai dengan menelaah gagasan dan mengenali sengketa (Pacione, 2011). Menurut Potter & Perry (2009), analisis keperawatan berpikiran terbuka tentang data informasi pasien, tidak boleh membuat asumsi yang terburu-buru dan sembrono, dan tidak boleh meragukan apakah data tersebut tidak sesuai dengan apa yang diketahui perawat.
- Inferensi (Inference)
Inferensi merupakan proses mengidentifikasi dan memperoleh unsur yang dibutuhkan untuk menaik kesimpulan, untuk membentuk suatu dugaan atau hipotesis, mempertimbangkan informasi yang relevan dan mengembangkan konsekuensi yang sesuai dengan data, pernyataan, prinsip, bukti, penilaian, keyakinan, opini, konsep, deskripsi, pertanyaan dan bentukbentuk representasi lainnya (Pacione, 2011). Menurut Potter & Perry (2009), aplikasi inferensi dalam keperawatan yaitu melihat arti dari data yang dikumpulkan dan menentukan signifikansinya, apakah terdapat hubungan antar data, apakah data tersebut dapat membantu untuk mengetahui adanya masalah pasien
- Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi merupakan suatu proses pengkajian kredibilitas pernyataan atau representasi yang menilai atau menggambarkan persepsi, pengalaman, situasi, penilaian, keyakinan atau opini seseorang serta mengkaji kekuatan logis dari hubungan aktual antara dua atau lebih pernyataan, deskripsi, pertanyaan atau bentuk representasi lainnya. Menurut Potter & Perry (2009), aplikasi evaluasi dalam keperawatan yaitu melihat situasi secara objektif dan menggunakan kriteria untuk menentukan hasil yang diharapkan atau tindakan keperawatan, evaluasi dilakukan pada tindakan yang telah perawat kerjakan
- Eksplanasi (Explanation)
Eksplanasi diartikan sebagi sutu kemampuan untuk mempresentasikan hasil penilaian seseorang dengan cara meyakinkan dan koheren. Artinya, eksplanasi adalah kemampuan memberikan gambaran besar dari gambaran besar. Menurut Potter & Perry (2009), penerapan penjelasan dalam keperawatan adalah menjelaskan temuan dan kesimpulan perawat dengan menggunakan semua pengetahuan dan pengalaman perawat untuk menentukan cara yang benar dalam merawat pasien.
- Kontrol diri
Kontrol diri adalah kesadaran untuk memantau aktivitas kognitif, elemen yang digunakan dalam aktivitas tersebut, dan hasil yang dikembangkan melalui penggunaan keterampilan khusus untuk bertanya, menegaskan, analisis untuk verifikasi, dan evaluasi penilaian independen. Ini didefinisikan atau memodifikasi hasil dari evaluasinya sendiri. Menurut Potter & Perry (2009), menerapkan kontrol diri pada keperawatan adalah menemukan cara untuk mengalami kejadian tersebut dan meningkatkan kinerja perawat dan bagaimana perawat dapat merasa sukses.
- Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keterampilan dan Kemampuan Berpikir Kritis
Menurut Potter & Perry (2009), faktor-faktor yang mempengaruhi keterampilan berpikir kritis perawat adalah lamanya pengalaman klinis dan tingkat pendidikan. Keperawatan adalah area penerapan praktik. Pengalaman dalam pembelajaran klinis diperlukan untuk mengembangkan keterampilan pengambilan keputusan (Roche, 2002).
Dengan pengalaman, perawat mulai memahami situasi klinis, mengenali pola kesehatan pasien, dan menilai apakah pola tersebut terkait dengan kesehatan pasien (Potter & Perry, 2009). Konfrontasi dengan masalah klinis dalam praktik keperawatan memberikan perawat kesempatan untuk menerapkan dan membiasakan keterampilan mereka (Martin, 2002). Pentingnya berpikir kritis sebagai standar dalam berbagai disiplin ilmu, termasuk keperawatan, diakui secara luas (Australian Nursing Council Incorporated, 2002).
Demikian pentingnya berfikiri kritis bagi perawat khususnya para perawat profesional. Ciri profesionalitas perawat secara personal dapat dilihat dari bagaimana seorang perawat melakukan asuhan keperawatan sehari – hari khususnya dalam melakukan problem solving dalam melakukan asuhan keperawatan sehari – hari guna pencapaian mutu keperawatan yang terstandar.
DAFTAR REFERENSI
Alfaro-LeFevre, R. (2003). Critical Thinking in Nursing: A Practical Approach. 3rd Ed. Philadelphia: Saunders.
Alfaro-LeFevre, R. (2004). Critical Thinking and Clinical Judgement: A Practical Approach. 3rd Ed. St. Louis: Saunders.
Australian Nursing Council Incorporated. (2002). National Competency Standards for the Registered Nurse. 3rd Ed. Dickson, Australia: Author.
Black, J. M. & Hawk, J. H. (2009). Medical Surgical Nursing : Clinical Management for Positive Outcomes. Vol 2. 8th Ed. St.Louis, Missouri : Saunders Elsevier
Bucknall, T. (2003). The Clinical Landscape of Critical Care : Nurses’ Decision- Making. Journal of Advance Nursing, 43, 310-319.
Canadian Orthopaedic Nurses Association. (2000). Standards for Canadian Orthopaedic Nursing. Canada: Authors
Christensen, P. J., & Kenney, J. W. (2009). Proses Keperawatan, Aplikasi Model Konseptual (Terj. dari Nursing Process : Application of Conceptual Models. 4th Ed). Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Fesler-Birch, D.M. (2005). Critical Thinking and Patient Outcomes: A Review. Nursing Outlook, 53, 59-65.
Ingram, M. (2008). Critical Thinking in Nursing: Experience vs. Education. A Disertation. University of Phoenix
North American Nursing Diagnosis Association International. (2007). Nursing Diagnosis: Definition and Classification, 2007-2008. Philadelphia: Author.
Polit, D. F., & Hungler, B. P. (2004). Nursing Research : Principles and Methods. 6th Ed. Philadelphia : Lipincott Williams & Wilkins.
Potter & Perry. (2009). Fundamentals of Nursing. 7th Ed. St. Louis, Missouri : Mosby Elsevier
Roche, J. P. (2002). A Pilot Study of Teaching clinical decision making with The Clinical Educator Model. Journal of Nursing Education, 41(8), 365-367.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar