KEPERAWATAN BENCANA (SUPPLEMENT)

BAB  1 Konsep dasar Bencana   Yuyud Wahyudi      Pendahuluan  Kompleksnya definisi dan konsep – konsep dasar tentang bencana wajib dikuasai oleh siapapun yang berkecimpung didalamnya, termasuk tenaga kesehatan secara umum dan khususnya perawat. Hal ini penting untuk digaris bawahi mengingat bencana dapat terjadi dimana saja, kapan saja tanpa, dan menimpa siapa saja pandang bulu. Pemahaman tentang istilah – istilah dasar terkait definisi, jenis bencana, serta dampak dari bencana itu sendiri wajib diketahui dan dipahami. Hal ini menjadi penting karena dengan memahami konsep – konsep dasar tersebut maka akan sangat membantu dalam menentukan langkah selanjutnya. Untuk menunjang tujuan tersebut diatas maka pada Bab 1 ini akan dibahas tentang konsep – konsep dasar umum dalam kebencanaan seperti definisi – definisi bencana, jenis – jenis bencana serta dampak bencana secara umum yang timbul akibat kejadian bencana. Pada akhir pembelajaran pada Bab 1, pembelajar dih...

Konsep asuhan Keperawatan kesehatan keluarga

 Review 

Konsep asuhan Keperawatan kesehatan keluarga


YUYUD WAHYUDI

 

 

 

 

 

Keluarga dan komunitas memegang peran penting dalam kehidupan seseorang, karena melalui keluarga dan komunitas, seseorng mengalami pertumbuhan dan perkembangan menjadi individu utuh . Peran dan fungsi keluarga dan komunitas sangat memengaruhi keadaan kesehatan individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat. 

 

A. Konsep Keluarga

1. Definisi Keluarga

Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul serta tinggal di suatu tempat di bawah satu atap dan saling ketergantungan (Departemen Kesehatan RI,1988).

 

2. Tipe keluarga

Berbagai tipe keluarga yang perlu diketahui adalah sebagai berikut.

a. Tipe keluarga tradisional, terdiri atas beberapa tipe di bawah ini

1) The Nuclear family (keluarga inti), yaitu keluarga yang terdiri atas suami, istri, dan anak, baik anak kandung maupun anak angkat.

2) The dyad family (keluarga dyad), suatu rumah tangga yang terdiri atas suami dan istri tanpa anak. 

3) Single parent, yaitu keluarga yang terdiri atas satu orang tua dengan anak (kandung atau angkat). Kondisi ini dapat disebabkan oleh perceraian atau kematian.

4) Single adult, yaitu suatu rumah tangga yang terdiri atas satu orang dewasa. Tipe ini dapat terjadi pada seorang dewasa yang tidak menikah atau tidak mempunyai suami.

5) Extended family, keluarga yang terdiri atas keluarga inti ditambah keluarga lain, seperti paman, bibi, kakek, nenek, dan sebagainya. Tipe keluarga ini banyak dianut oleh keluarga Indonesia terutama di daerah pedesaan.

6) Middle-aged or elderly couple, orang tua yang tinggal sendiri di rumah (baik suami/istri atau keduanya), karena anak-anaknya sudah membangun karir sendiri atau sudah menikah.

7) Kin-network family, beberapa keluarga yang tinggal bersama atau saling berdekatan dan menggunakan barang-barang pelayanan, seperti dapur dan kamar mandi yang sama.

b. Tipe keluarga yang kedua adalah tipe keluarga nontradisional, tipe keluarga ini tidak lazim ada di Indonesia, terdiri atas beberapa tipe sebagai berikut.

1) Unmarried parent and child family, yaitu keluarga yang terdiri atas orang tua dan anak dari hubungan tanpa nikah.

2)  Cohabitating couple, orang dewasa yang hidup bersama di luar ikatan perkawinan karena beberapa alasan tertentu.

3) Gay and lesbian family, seorang yang mempunyai persamaan jenis kelamin tinggal dalam satu rumah sebagaimana pasangan suami istri.

4) The nonmarital heterosexual cohabiting family, keluarga yang hidup bersama berganti-ganti pasangan tanpa melalui pernikahan.

5) Foster family, keluarga menerima anak yang tidak ada hubungan keluarga/saudara dalam waktu sementara, pada saat orang tua anak tersebut perlu mendapatkan bantuan untuk menyatukan kembali keluarga yang aslinya.

 

3. Fungsi keluarga

Menurut Friedman fungsi keluarga ada lima antara lain berikut ini.

a. Fungsi afektif

Fungsi ini meliputi persepsi keluarga tentang pemenuhan kebutuhan psikososial anggota keluarga, membentuk sifat kemanusiaan dalam diri anggota keluarga, stabilisasi kepribadian dan tingkah laku, kemampuan menjalin secara lebih akrab, dan harga diri.

b. Fungsi sosialisasi dan penempatan sosial

Sosialisasi merupakan proses perkembangan atau perubahan yang dialami oleh seorang individu sebagai hasil dari interaksi sosial dan pembelajaran peran-peran sosial.

c.  Fungsi reproduksi

Keluarga berfungsi untuk meneruskan keturunan dan menambah sumber daya manusia.

d. Fungsi ekonomi

Keluarga berfungsi untuk memenuhi kebutuhan keluarga secara ekonomi dan tempat untuk mengembangkan kemampuan individu meningkatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

e. Fungsi perawatan kesehatan

Menyediakan kebutuhan fisik dan perawatan kesehatan meliputi 

1) Kemampuan keluarga mengenal masalah kesehatan keluarga.

2) Kemampuan keluarga membuat keputusan yang tepat bagi keluarga.

3) Kemampuan keluarga dalam merawat keluarga yang mengalami gangguan kesehatan.

4) Kemampuan keluarga dalam mempertahankan atau menciptakan suasana rumah yang sehat. 

5) Kemampuan keluarga dalam menggunakan fasilitas.

 

4. Tahap Perkembangan Keluarga.

a. Keluarga baru menikah atau pemula. Tugas perkembangannya adalah:

1) membangun perkawinan yang saling memuaskan;

2) membina hubungan persaudaraan, teman, dan kelompok sosial;

3) mendiskusikan rencana memiliki anak.

b. Tahap perkembangan keluarga yang kedua adalah keluarga dengan anak baru lahir. Tugas perkembangannya adalah:

1) membentuk keluarga muda sebagai sebuah unit yang mantap mengintegrasikan bayi yang baru lahir ke dalam keluarga;

2) rekonsiliasi tugas-tugas perkembangan yang bertentangan dan kebutuhan nanggota keluarga;

3) mempertahankan hubungan perkawinan yang memuaskan;

4) memperluas persahabatan dengan keluarga besar dengan menambahkan peranperan orang tua dan kakek nenek.

c. Keluarga dengan anak usia pra sekolah. Tugas perkembangannya adalah:

1) memenuhi kebutuhan anggota keluarga, seperti rumah, ruang bermain, privasi, dan keamanan;

2) mensosialisasikan anak;

3) mengintegrasikan anak yang baru, sementara tetap memenuhi kebutuhan anak yang lain;

4) mempertahankan hubungan yang sehat dalam keluarga dan di luar keluarga.

d.  Keluarga dengan anak usia sekolah. Tugas perkembangannya adalah:

1) mensosialisasikan anak-anak, termasuk meningkatkan prestasi sekolah dan

2) hubungan dengan teman sebaya yang sehat;

3) mempertahankan hubungan perkawinan yang memuaskan;

4) memenuhi kebutuhan kesehatan fisik anggota keluarga.

e. Keluarga dengan anak remaja. Tugas perkembangannya adalah:

1) menyeimbangkan kebebasan dengan tanggung jawab ketika remaja menjadi dewasa dan semakin mandiri;

2) memfokuskan kembali hubungan perkawinan;

3) berkomunikasi secara terbuka antara orang tua dan anak-anak.

f. Keluarga melepas anak usia dewasa muda. Tugas perkembangannya adalah:

1) memperluas siklus keluarga dengan memasukkan anggota keluarga baru yang didapatkan melalui perkawinan anak-anak;

2) melanjutkan untuk memperbaharui dan menyesuaikan kembali hubungan perkawinan;

3) membantu orangtua lanjut usia dan sakit-sakitan dari suami atau istri.

g. Keluarga dengan usia pertengahan. Tugas perkembangannya adalah:

1) menyediakan lingkungan yang meningkatkan kesehatan;

2) mempertahankan hubungan yang memuaskan dan penuh arti dengan para orang tua lansia dan anak-anak;

3) memperkokoh hubungan perkawinan.

h. Keluarga dengan usia lanjut. Tugas perkembangannya adalah:

1) mempertahankan pengaturan hidup yang memuaskan;

2) menyesuaikan terhadap pendapatan yang menurun;

3) mempertahankan hubungan perkawinan;

4) menyesuaikan diri terhadap kehilangan pasangan;

5) mempertahankan ikatan keluarga antargenerasi;

6) meneruskan untuk memahami eksistensi mereka (penelaahan hidup).

 

B. Konsep Keperawatan Keluarga

1. Definisi keperawatan keluarga

Pelayanan keperawatan keluarga merupakan salah satu area pelayanan keperawatan di masyarakat yang menempatkan keluarga dan komponennya sebagai fokus pelayanan dan melibatkan anggota keluarga dalam pengkajian, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi, dengan memobilisasi sumber pelayanan kesehatan yang tersedia di keluarga dan sumbersumber dari profesi lain, termasuk pemberi pelayanan kesehatan dan sektor lain di komunitas (Depkes RI, 2010).

 

2. Tujuan 

Tujuan umum dari keperawatan keluarga adalah kemandirian keluarga dalam memelihara dan meningkatkan kesehatannya. Tujuan khusus dari keperawatan keluarga adalah keluarga mampu :

a. Mengenal masalah kesehatan yang dihadapi anggota keluarga. Kemampuan keluarga dalam mengenal masalah kesehatan seluruh anggota keluarga2. Membuat keputusan secara tepat dalam mengatasi masalah kesehatan anggota keluarga.

b. mengambil keputusan untuk membawa anggota keluarga ke pelayanan kesehatan.

c. Memberi perawatan pada anggota keluarga yang mempunyai masalah kesehatan

d. merawat anggota keluarga yang sakit. 

e. Memodifikasi lingkungan yang kondusif

f.  Memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan untuk pemeliharaan dan perawatan anggota keluarga yang mempunyai masalah kesehatan. 

 

3. Sasaran keperawatan kesehatan keluarga (Depkes RI, 2010)

a. Keluarga sehat

Keluarga sehat adalah seluruh anggota keluarga dalam kondisi tidak mempunyai masalah kesehatan, tetapi masih memerlukan antisipasi terkait dengan siklus perkembangan manusia dan tahapan tumbuh kembang keluarga. Fokus intervensinkeperawatan terutama pada promosi kesehatan dan pencegahan penyakit.

b. Keluarga risiko tinggi dan rawan kesehatan

Keluarga risiko tinggi dapat didefinisikan, jika satu atau lebih anggota keluarga memerlukan perhatian khusus dan memiliki kebutuhan untuk menyesuaikan diri, terkait siklus perkembangan anggota keluarga dan keluarga dengan faktor risiko penurunan status kesehatan

c. Keluarga yang memerlukan tindak lanjut

Keluarga yang memerlukan tindak lanjut merupakan keluarga yang mempunyai masalah kesehatan dan memerlukan tindak lanjut pelayanan keperawatan atau kesehatan, misalnya klien pasca hospitalisasi penyakit kronik, penyakit degeneratif, tindakan pembedahan, dan penyakit terminal.

 

4. Peran dan fungsi perawat keluarga (Friedmann dkk, 2013)

Peran dan fungsi perawat kesehatan komunitas dalam memberikan asuhan keperawatan kepada keluarga adalah sebagai berikut :

a. Pelaksana 

Peran dan fungsi perawat sebagai pelaksana adalah memberikan pelayanan keperawatan dengan pendekatan proses keperawatan, mulai pengkajian sampai evaluasi. Pelayanan diberikan karena adanya kelemahan fisik dan mental, keterbatasan pengetahuan, serta kurangnya keamanan menuju kemampuan melaksanakan kegiatan sehari-hari secara mandiri. Kegiatan yang dilakukan bersifat promotif, preventif, kuratif, serta rehabilitatif.

b. Pendidik

Peran dan fungsi perawat sebagai pendidik adalah mengidentifikasi kebutuhan, menentukan tujuan, mengembangkan, merencanakan, dan melaksanakan pendidikan kesehatan agar keluarga dapat berperilaku sehat secara mandiri.

c. Konselor

Peran dan fungsi perawat sebagai konselor adalah memberikan konseling atau bimbingan kepada individu atau keluarga dalam mengintegrasikan pengalaman kesehatan dengan pengalaman yang lalu untuk membantu mengatasi masalah kesehatan keluarga.

d. Kolaborator 

Peran dan fungsi perawat sebagai kolaborator adalah melaksanakan kerja sama dengan berbagai pihak yang terkait dengan penyelesaian masalah kesehatan di keluarga 

 

Selain peran perawat keluarga di atas, ada juga peran perawat keluarga dalam pencegahan primer, sekunder dan tersier, sebagai berikut.

a. Pencegahan Primer

Peran perawat dalam pencegahan primer mempunyai peran yang penting dalam upaya pencegahan terjadinya penyakit dan memelihara hidup sehat.

b. Pencegahan sekunder

Upaya yang dilakukan oleh perawat adalah mendeteksi dini terjadinya penyakit pada kelompok risiko, diagnosis, dan penanganan segera yang dapat dilakukan oleh perawat. Tujuan dari pencegahan sekunder adalah mengendalikan perkembangan penyakit dan mencegah kecacatan lebih lanjut. Peran perawat adalah merujuk semua anggota keluarga untuk skrining, melakukan pemeriksaan, dan mengkaji riwayat kesehatan.

c. Pencegahan tersier

Peran perawat pada upaya pencegahan tersier ini bertujuan mengurangi luasnya dan keparahan masalah kesehatan, sehingga dapat meminimalkan ketidakmampuan dan memulihkan atau memelihara fungsi tubuh. 

 

C. Asuhan Keperawatan Keluarga

Asuhan keperawatan keluarga dilaksanakan dengan pendekatan proses keperawatan. Proses keperawatan terdiri atas lima langkah, yaitu pengkajian, perumusan diagnosis keperawatan, penyusunan perencanaan tindakan keperawatan, pelaksanaan tindakan keperawatan, dan melakukan evaluasi Pengkajian keperawatan keluarga merupakan langkah awal dari proses keperawatan keluarga. 

 

1. pengkajian keperawatan keluarga

a. definisi 

Pengkajian keperawatan merupakan proses pengumpulan data.  Pengumpulan data adalah pengumpulan informasi tentang klien yang dilakukan secara sistematis untuk menentukan masalah-masalah, serta kebutuhan-kebutuhan keperawatan, dan kesehatan klien. informasi yang terkumpul, didapatkan data dasar tentang masalah-masalah yang dihadapi klien. Selanjutnya, data dasar tersebut digunakan untuk menentukan diagnosis keperawatan, merencanakan asuhan keperawatan, serta tindakan keperawatan untuk mengatasi masalah-masalah klien.

 

b. Tujuan pengkajian keperawatan keluarga

1) memperoleh informasi tentang keadaan kesehatan klien;

2) menentukan masalah keperawatan dan kesehatan klien;

3) menilai keadaan kesehatan klien;

4) membuat keputusan yang tepat dalam menentukan langkah-langkah berikutnya.

 

c. Karakteristik data yang dikumpulkan

1) Lengkap

Seluruh data diperlukan untuk mengidentifikasi masalah keperawatan klien dan keluarga. Data yang terkumpul harus lengkap guna membantu mengatasi masalah secara adekuat. 

2) Akurat

Data yang dikumpulkan harus akurat untuk menghindari kesalahan. Perawat harus berpikir bagaimana caranya mengklarifikasi data yang ditemukan melalui keluhan klien adalah benar, dengan membuktikan apa yang telah didengar, dilihat, diamati dan diukur melalui pemeriksaan. Data perlu divalidasi sekiranya meragukan dan hindari membuat kesimpulan sendiri terlalu dini.

3) Relevan

Data yang dikumpulkan harus relevan dengan kondisi klien dan keluarga. Oleh karenanya, perawat perlu memahami penyakit yang diderita klien sebelum melakukan pengkajian data. Perawat dapat membuat catatan-catatan tentang data yang akan dikaji apabila tidak disediakan format pengkajian.

d. Sumber Data

1) Sumber data Primer

Sumber data primer adalah data yang dikumpulkan secara langsung dari klien dan keluarga, yang dapat memberikan informasi yang lengkap tentang masalah kesehatan yang dihadapinya.

2) Sumber data Sekunder

Sumber data sekunder adalah data yang dikumpulkan dari orang terdekat dari klien (keluarga), seperti orang tua, atau pihak lain yang mengerti kondisi klien selama sakit.. Secara umum, sumber data yang dapat digunakan dalam pengumpulan data kesehatan keluarga adalah berikut ini.

a) Klien dan keluarga.

b) Orang terdekat.

c) Catatan klien.

d) Riwayat penyakit (pemeriksaan fisik dan catatan perkembangan).

e) Konsultasi.

f) Hasil pemeriksaan diagnostik.

g) Catatan medis dan anggota tim kesehatan lainnya.

h) Perawat lain.

i) Kepustakaan.

Data yang dikumpulkan dari hasil pengkajian terdiri atas data subjektif dan data objektif. Data subjektif adalah data hasil wawancara dan data objektif adalah data hasil pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, dan observasi. Selama proses pengkajian, perawat memandang manusia dari aspek biologis, psikologis, sosial, dan aspek spiritual. Kemampuan lain yang harus dimiliki juga oleh perawat adalah melakukan observasi secara sistematis pada klien dan keluarga, kemampuan dalam membangun suatu kepercayaan, kemampuan mengadakan wawancara, serta melakukan pemeriksaan fisik keperawatan.

 

e. Metode pengumpulan data

Metode pengumpulan data dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.

1) Wawancara, yaitu komunikasi dengan klien dan keluarga untuk mendapatkan respon, baik verbal maupun nonverbal.  Tujuan dari wawancara adalah untuk memperoleh data tentang masalah kesehatan secara lagsung dari klien dan keluarga Wawancara juga dilakukan untuk menjalin hubungan antara perawat dengan klien. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan wawancara dengan klien dan keluarga adalah sebagai berikut.

a) Menerima keberadaan klien dan keluarga sebagaimana adanya.

b) Memberikan kesempatan kepada klien dan keluarga untuk menyampaikan keluhan-keluhannya atau pendapatnya secara bebas.

c) Selama melakukan wawancara harus dapat menjamin rasa aman dan nyaman bagi klien.

d) Perawat harus bersikap tenang, sopan dan penuh perhatian.

e) Menggunakan bahasa yang mudah dimengerti.

f) Tidak bersifat menggurui.

g) Memperhatikan pesan yang disampaikan.

h) Mengurangi hambatan-hambatan.

i) Posisi duduk yang sesuai (berhadapan, jarak tepat atau sesuai, dan cara duduk).

j) Menghindari adanya interupsi.

k) Mendengarkan keluhan-keluhan yang disampaikan klien dan keluarga.

l) Memberikan kesempatan istirahat kepada klien dan keluarga selama proses pengumpulan data.

m) Jenis wawancara yang dapat dilakukan perawat adalah:

· auto anamnese, yaitu wawancara dengan klien dan keluarga secara langsung;

· allo anamnese adalah wawancara dengan orang terdekat dengan klien dan keluarga.

 

2) Observasi

Observasi adalah mengamati perilaku serta keadaan klien dan keluarga untuk memperoleh data tentang masalah kesehatan yang dialami. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan observasi adalah berikut ini.

a) Pemeriksaan yang akan dilakukan tidak selalu harus dijelaskan secara rinci kepada klien, karena dapat berisiko meningkatkan kecemasan klien dan keluarga serta mengaburkan data. 

b) Observasi dapat dilakukan berkaitan dengan kondisi fisik, mental, sosial, dan spiritual klien.

c) Hasil observasi harus selalu didokumentasikan dengan baik, sehingga datanya dapat digunakan oleh tim kesehatan lain sebagai data pendukung yang penting.

3) Konsultasi 

Konsultasi Dengan tenaga ahli atau spesialis sesuai dengan masalah kesehatan yang ditemukan. Hasil konsultasi dapat digunakan sebagai data pendukung dan validasi data.

4) Pemeriksaan fisik 

Pemeriksaan fisik adalah melakukan pemeriksaan fisik klien untuk menentukan masalah kesehatan klien. Pemeriksaan fisik dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain Inspeks,  PalpasiAuskultasiPerkusi

5) Pemeriksaan penunjang. Misalnya, pemeriksaan laboratorium, rontgen, dan pemeriksaan lain sesuai dengan kondisi klien.

 

 

f. Komponen pengkajian keluarga

Friedman, dkk (2003), berpendapat bahwa komponen pengkajian keluarga terdiri atas kategori pertanyaan, yaitu data pengenalan keluarga, riwayat dan tahap perkembangan keluarga, data lingkungan, struktur keluarga (struktur peran, nilai, komunikasi, kekuatan), fungsi keluarga (fungsi afektif, sosialisasi, pelayanan kesehatan, ekonomi, reproduksi), dan koping keluarga. Uraian secara lebih rinci adalah sebagai berikut : 

 

1) Data pengenalan keluarga  

Data yang perlu dikumpulkan adalah nama kepala keluarga, alamat lengkap, komposisi keluarga, tipe keluarga, latar belakang budaya, identitas agama, status kelas sosial, dan rekreasi keluarga. 

2)  Data perkembangan dan sejarah keluarga

Data yang perlu dikaji pada komponen pengkajian ini, yaitu tahap perkembangan keluarga saat ini, diisi berdasarkan umur anak pertama dan tahap perkembangan yang belum terpenuhi, riwayat keluarga inti (data yang dimaksud adalah data kesehatan seluruh anggota keluarga inti yang terdiri atas ayah, ibu, dan anak), riwayat keluarga sebelumnya dari kedua orang tua termasuk riwayat kesehatan.

3) Data lingkungan

Data Komunitas terdiri atas tipe penduduk, apakah termasuk penduduk pedesaan atau perkotaan, tipe hunian rumah, apakah sebagian besar tetangga, sanitasi jalan, dan pengangkutan sampah. Karakteristik demografi tetangga dan komunitas meliputi kelas sosial, etnis, pekerjaan, dan bahasa sehari-hari.

Data selanjutnya pada komponen ini, adalah mobilitas geografis keluarga. Data yang perlu dikaji adalah berapa lama keluarga tinggal di tempat tersebut, adakah riwayat pindah rumah, dari mana pindahnya. Kemudian ditanyakan juga perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat, penggunaan pelayanan di komunitas, dan keikutsertaan keluarga di komunitas.

Data berikutnya adalah sistem pendukung keluarga. Data yang perlu dikaji adalah siapa yang memberikan bantuan, dukungan, dan konseling di keluarga, apakah teman, tetangga, kelompok sosial, pegawai, atau majikan, apakah ada hubungan keluarga dengan pelayanan kesehatan dan agen lain dikomunitas.

4) Data struktur keluarga

Data yang keempat yang perlu dikaji adalah data struktur keluarga, antara lain pola komunikasi, meliputi penggunaan komunikasi antaranggota keluarga, bagaimana anggota keluarga menjadi pendengar, jelas dalam menyampaikan pendapat, dan perasaannya selama berkomunikasi dan berinteraksi.

Data berikutnya yang dikaji adalah struktur kekuatan keluarga, yang terdiri atas data siapa yang membuat keputusan dalam keluarga, seberapa penting keputusan yang diambil. Selanjutnya, adalah data struktur peran, meliputi data peran formal dan peran informal dalam keluarga yang meliputi peran dan posisi setiap anggota keluarga, tidak ada konflik dalam peran, bagaimana perasaan dalam menjalankan perannya, apakah peran dapat berlaku fleksibel. 

Data selanjutnya adalah nilai-nilai keluarga, yaitu nilai kebudayaan yang dianut keluarga, nilai inti keluarga seperti siapa yang berperan dalam mencari nafkah, kemajuan dan penguasaan lingkungan, orientasi masa depan, kegemaran keluarga, keluarga sebagai pelindung dan kesehatan bagi keluarga, apakah ada kesesuaian antara nilai-nilai keluarga dan nilai subsistem keluarga, bagaimana pentingnya nilai-nilai keluarga secara sadar atau tidak, apakah ada konflik nilai yang menonjol dalam keluarga itu sendiri, bagaimana nilai-nilai memengaruhi kesehatan keluarga.

 

5) Data fungsi keluarga 

Komponen data kelima yang dikumpulkan adalah fungsi keluarga. 

a) Fungsi afektif

Pada fungsi ini dilakukan pengkajian pada pola kebutuhan keluarga dan responnya. Apakah anggota keluarga merasakan kebutuhan individu lain dalam keluarga, apakah anggota keluarga memberikan perhatian satu sama lain, bagaimana mereka saling mendukung satu sama lainnya.

b) Fungsi sosialisasi

Data yang dikumpulkan adalah bagaimana keluarga menanamkan disiplin, penghargaan dan hukuman bagi anggota keluarga, bagaimana keluarga melatih otonomi dan ketergantungan, memberi dan menerima cinta, serta latihan perilaku yang sesuai usia.

c) Fungsi perawatan kesehatan. 

Data yang dikaji terdiri atas keyakinan dan nilai perilaku keluarga untuk kesehatan, Bagaimana keluarga menanamkan nilai kesehatan terhadap anggota keluarga, konsistensi keluarga dalam melaksanakan nilai kesehatan keluarga. Pengkajian data pada fungsi perawatan kesehatan difokuskan pada data tugas keluarga di bidang kesehatan.Tugas kesehatan keluarga menurut Friedman (1988) ada 5 (Lima), yaitu: 

· Kemampuan keluarga mengenal masalah kesehatan. Data yang dikaji adalah apakah keluarga mengetahui masalah kesehatan yang sedang diderita anggota keluarga, apakah keluarga mengerti tentang arti dari tanda dan gejala penyakit yang diderita anggota keluarga. Bagaimana persepsi keluarga terhadap masalah kesehatan anggota keluarga, bagaimana persepsi keluarga terhadap upaya yang dilakukan untuk menjaga kesehatan.

· Kemampuan keluarga mengambil keputusan yang tepat. Data yang dikaji adalah bagaimana kemampuan keluarga mengambil keputusan apabila ada anggota keluarga yang sakit, apakah diberikan tindakan sendiri di rumah atau dibawa ke fasilitas pelayanan kesehatan. Siapa yang mengambil keputusan untuk melakukan suatu tindakan apabila anggota keluarga sakit, bagaimana proses pengambilan keputusan dalam keluarga apabila ada anggota keluarga yang mengalami masalah kesehatan.

· Kemampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit. Data yang dikaji adalah bagaimana keluarga mampu melakukan perawatan untuk anggota keluarganya yang mengalami masalah kesehata, yakni diantaranya. Apakah keluarga mengetahui sumber-sumber makanan bergizi, apakah diet keluarga yang mengalami masalah kesehatan sudah memadai, siapa yang bertanggung jawab terhadap perencanaan belanja dan pengolahan makanan untuk anggota keluarga yang sakit, berapa jumlah dan komposisi makanan yang dikonsumsi oleh keluarga yang sakit sehari, bagaimana sikap keluarga terhadap makanan dan jadual makan. jumlah jam tidur anggota keluarga sesuai dengan perkembangan, apakah ada jadual tidur tertentu yang harus diikuti oleh anggota keluarga, fasilitas tidur anggota keluarga. Bagaimana kebiasaan olah raga anggota keluarga, persepsi keluarga terhadap kebiasaan olah raga, bagaimana latihan anggota keluarga yang mengalami masalah kesehatan. Apakah ada kebiasaan keluarga mengkonsumsi kopi dan alkohol, bagaimana kebiasaan minum obat pada anggota keluarga yang mempunyai masalah kesehatan, apakah keluarga secara teratur menggunakan obat-obatan tanpa resep, apakah obat-obatan ditempatkan pada tempat yang aman dan jauh dari jangkauan anak-anak.  Apakah yang dilakukan keluarga untuk memperbaiki status kesehatannya,  apa yang dilakukan keluarga untuk mencegah terjadinya suatu penyakit, apa yang dilakukan keluarga dalam merawat anggota keluarga yang sakit, apakah ada keyakinan, sikap dan nilai-nilai dari keluarga dalam hubungannya dengan perawatan di rumah.

· Kemampuan keluarga memodifikasi lingkungan yang sehat. Data yang dikaji adalah bagaimana keluarga mengatur dan memelihara lingkungan fisik dan psikologis bagi anggota keluarganya. Lingkungan fisik, bagaimana keluarga mengatur perabot rumah tangga, menjaga kebersihannya, mengatur ventilasi dan pencahayaan rumah. Lingkungan psikologis, bagaimana keluarga menjaga keharmonisan hubungan antaranggota keluarga, bagaimana keluarga memenuhi privasi masing-masing anggota keluarga.

· Kemampuan keluarga memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan. Data yang dikaji adalah apakah keluarga sudah memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan yang mudah dijangkau dari tempat tinggalnya, misalnya Posyandu, Puskesmas Pembantu, Puskesmas, dan Rumah Sakit terdekat dengan rumahnya. Sumber pembiayaan yang digunakan oleh keluarga, bagaimana keluarga membayar pelayanan yang diterima, apakah keluarga masuk asuransi kesehatan, apakah keluarga mendapat pelayanan kesehatan gratis. Alat transportasi apa yang digunakan untuk mencapai pelayanan kesehatan, masalah apa saja yang ditemukan jika keluarga menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan umum.

· Fungsi ekonomi merupakan fungsi keempat yang perlu dikaji. Data yang diperlukan meliputi bagaimana keluarga berfungsi untuk memenuhi kebutuhan keluarga secara ekonomi yang terdiri atas data jenis pekerjaan, jumlah penghasilan keluarga, jumlah pengeluaran, bagaimana keluarga mampu mencukupi semua kebutuhan anggota keluarga, bagaimana pengaturan keuangan dalam keluarga.

d) Fungsi reproduksi

Data yang dikumpulkan adalah berapa jumlah anak, apakah mengikuti program keluarga berencana atau tidak, apakah mempunyai masalah pada fungsi reproduksi.

 

6) Data Koping Keluarga 

Data yang perlu dilakukan pengkajian adalah stresor keluarga, meliputi data tentang stresor yang dialami keluarga berkaitan dengan ekonomi dan sosialnya, apakah keluarga dapat memastikan lama dan kekuatan stresor yang dialami, apakah keluarga dapat mengatasi stresor dan ketegangan sehari-hari. Apakah keluarga mampu bertindak berdasarkan penilaian yang objektif dan realistis terhadap situasi yang menyebabkan stres. Bagaimana keluarga bereaksi terhadap situasi yang penuh dengan stres, strategi koping bagaimana yang diambil oleh keluarga, apakah anggota keluarga mempunyai koping yang berbeda-beda. Koping internal dan eksternal yang diajarkan, apakah anggota keluarga berbeda dalam cara-cara koping, strategi koping internal keluarga, kelompok kepercayaan keluarga, penggunaan humor, self evaluasi, penggunaan ungkapan, pengontrolan masalah pada keluarga, pemecahan masalah secara bersama, fleksibilitas peran dalam keluarga. Strategi koping eksternal: mencari informasi, memelihara hubungan dengan masyarakat, dan mencari dukungan sosial. 

Setelah data terkumpul, kemudian dilanjutkan analisis data. Analisis data merupakan pengelompokan data berdasarkan masalah keperawatan yang terjadi. Analisis data membutuhkan kemampuan kognitif dalam pengembangan daya berpikir dan penalaran yang dipengaruhi oleh latar belakang ilmu dan pengetahuan, pengalaman, dan pengertian keperawatan.  Selama melakukan analisis data, diperlukan kemampuan mengaitkan data dan  menghubungkan data tersebut dengan konsep, teori dan prinsip yang relevan untuk membuat kesimpulan dalam menentukan masalah keperawatan klien dan keluarga. Fungsi analisis data adalah dapat menginterpretasi data yang diperoleh dari pengkajian keperawatan yang memiliki makna dan arti dalam menentukan masalah dan kebutuhan klien, serta sebagai proses pengambilan keputusan dalam menentukan alternatif pemecahan masalah yang dituangkan dalam rencana asuhan keperawatan. 

Penulisan analisis data dalam bentuk tabel terdiri atas tiga kolom, yaitu pengelompokan data, kemungkinan penyebab (etiologi), dan masalah keperawatan. Data yang dikelompokkan berdasarkan data subjektif dan objektif (lihat gambar 1.)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1. Contoh tabel analisa data

 

 

2. Diagnosis Keperawatan Keluarga

Diagnosis keperawatan menjadi dasar untuk pemilihan tindakan keperawatan untuk mencapai hasil bagi perawat (Nanda, 2011). Diagnosis keperawatan ini dapat memberikan dasar pemilihan intervensi untuk menjadi tanggung gugat perawat. Formulasi diagnosis keperawatan adalah bagaimana diagnosis digunakan dalam proses pemecahan masalah dapat digambarkan berbagai masalah keperawatan yang membutuhkan asuhan keperawatan. 

Penulisan pernyataan diagnosis keperawatan pada umumnya meliputi tiga komponen, yaitu komponen (Problem), (Etiologi), dan (Simptom atau dikenal dengan batasan karakteristik). Pada penulisan diagnosis keperawatan keluarga menggunakan pernyataan problem saja tanpa etiologi dan simptom. Dengan demikian, penulisan diagnosis keperawatan keluarga adalah dengan menentukan masalah keperawatan yang terjadi.

 

a. Kategori diagnose keperawatan keluarga

1) Diagnosis keperawatan actual 

Kategori diagnosis keperawatan yang pertama adalah diagnosis keperawatan aktual. Diagnosis keperawatan ini menggambarkan respon manusia terhadap kondisi kesehatan atau proses kehidupan yang benar nyata pada individu, keluarga, dan komunitas (Nanda, 2011). Diagnosis keperawatan aktual dirumuskan apabila masalah keperawatan sudah terjadi pada keluarga. Tanda dan gejala dari masalah keperawatan sudah dapat ditemukan oleh perawat berdasarkan hasil pengkajian keperawatan. Contoh diagnosis keperawatan keluarga aktual adalah sebagai berikut. 

Bp. X memiliki anak yang mengalami diare sejak semalam yaitu An. F berumur 6 tahun. Berak cair sudah 5 kali dan muntah 2 kali, badan lemah. Diagnosis keperawatan yang dapat dirumuskan pada keluarga Bp. X ini adalah gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit pada An. F keluarga Bp. X., karena melalui identifikasi masalah Diagnosis keperawatan keluarga tersebut merupakan tipe aktual, karena sudah terdapat tanda dan gejala bahwa An. F sudah terjadi gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit. 

Diagnosis keperawatan keluarga tipe aktual yang dapat dirumuskan dari kasus di atas sebagai berikut.

a) Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh.

b) Gangguan pola tidur.

c) Disfungsi proses keluarga.

d) Ketidakefektifan manajemen regimen terapeutik keluarga.

 

2) Diagnosis keperawatan promosi kesehatan

Diagnosis keperawatan yang kedua adalah diagnosis promosi kesehatan yang dapat digunakan di seluruh status kesehatan. Namun, kesiagaan individu, keluarga, dan masyarakat untuk melakukan promosi kesehatan memengaruhi mereka untuk mendapatkan diagnosis promosi kesehatan.Kategori diagnosis keperawatan keluarga ini diangkat ketika kondisi klien dan keluarga sudah baik dan mengarah pada kemajuan. Meskipun masih ditemukan data yang maladaptif, tetapi klien dan keluarga sudah mempunyai motivasi untuk memperbaiki kondisinya, maka diagnosis keperawatan promosi kesehatan ini sudah bisa diangkat. Setiap label diagnosis promosi kesehatan diawali dengan frase: “Kesiagaan meningkatkan”…… (Nanda, 2010). Contoh diagnosis promosi kesehatan. 

 

Keluarga Bp. M dengan diabetes mellitus, saat pengkajian keperawatan dilakukan identifikasi data. Data yang ditemukan adalah gula darah acak (GDA) 120 mg/dl, Bp. M melaksanakan diet DM, tetapi Bp. M jarang berolah raga. Bp. M kurang memahami pentingnya olah raga, meskipun sudah pernah dilakukan penyuluhan kesehatan.

 

 

Diagnosis keperawatan keluarga yang dapat dirumuskan adalah kesiagaan meningkatkan pengetahuan pada Bp. M. Diagnosis keperawatan tipe promosi kesehatan diangkat, karena pada Bp. M dengan penyakit DM sudah menunjukkan kondisi yang sudah baik, meskipun jarang berolah raga. Bp. M sudah pernah mendapatkan penyuluhan kesehatan meskipun kurang memahami informasi tentang pentingnya berolah raga. Pada kasus ini Bp. M masih sangat memungkinkan untuk dapat meningkatkan pengetahuannya tentang olah raga. Tipe diagnosis keperawatan keluarga promosi kesehatan yang dapat dirumuskan dari kasus di atas adalah kesiagaan meningkatkan:

a) nutrisi;

b) komunikasi;

c) pembuatan keputusan;

d) pengetahuan;

e) religiusitas.

 

3) Diagnosis keperawatan risiko

Diagnosis keperawatan ketiga adalah diagnosis keperawatan risiko, yaitu menggambarkan respon manusia terhadap kondisi kesehatan atau proses kehidupan yang mungkin berkembang dalam kerentanan individu, keluarga, dan komunitas. Hal ini didukung oleh faktor-faktor risiko yang berkontribusi pada peningkatan kerentanan. Setiap label dari diagnosis risiko diawali dengan frase: “risiko” (Nanda, 2011). Contoh diagnosis risiko antara lain adalah : 

a) Risiko kekurangan volume cairan, 

b) Risiko terjadinya infeksi, 

c) Risiko intoleran aktivitas,

d)  Risiko ketidakmampuan menjadi orang tua, 

e) Risiko distres spiritual.

 

4) Diagnosis keperawatan sejahtera 

Diagnosis keperawatan keluarga yang terakhir adalah diagnosis keperawatan sejahtera. Diagnosis ini menggambarkan respon manusia terhadap level kesejahteraan individu, keluarga, dan komunitas, yang telah memiliki kesiapan meningkatkan status kesehatan mereka. Sama halnya dengan diagnosis promosi kesehatan, maka diagnosis sejahtera diawali dengan frase: “Kesiagaan Meningkatkan”…..(Nanda, 2011).

Contoh diagnosis sejahtera: 

a) Kesiagaan meningkatkan pengetahuan

b) Kesiagaan meningkatkan koping

c) Kesiagaan meningkatkan koping keluarga

d) Kesiapan meningkatkan koping

 

3. Perencanaan Keperawatan Keluarga

Perencanaan adalah tahapan yang penting dalam proses keperawatan, karena menentukan tindakan apa, yang akan dilakukan pada tahap pelaksanaan oleh perawat. Penyusunan perencanaan keperawatan keluarga hendaknya dilaksanakan bersama klien dan keluarga. Perawat dan keluarga secara bersama-sama akan mampu mengidentifikasi sumber yang dimiliki oleh keluarga yang dapat dimanfaatkan dalam menyelesaikan masalah kesehatan yang terjadi.

a. Definisi perencanaan keperawatan keluarga

Perencanaan keperawatan keluarga adalah sekumpulan tindakan yang direncanakan oleh perawat untuk membantu keluarga dalam mengatasi masalah keperawatan dengan melibatkan anggota keluarga.  Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam menyusun perencanaan keperawatan keluarga adalah berikut ini.

1) Rencana keperawatan harus didasarkan atas analisis data secara menyeluruh tentang masalah atau situasi keluarga.

2) Rencana keperawatan harus realistik.

3) Rencana keperawatan harus sesuai dengan tujuan dan falsafah instansi kesehatan.

4) Rencana keperawatan dibuat bersama keluarga.

 

b. Tujuan perencanaan peraawatan keluarga

Perencanaan keperawatan memiliki tujuan sebagai berikut.

1) Alat komunikasi antarperawat dalam memberikan asuhan keperawatan keluarga.

2) Meningkatkan kesinambungan asuhan keperawatan yang diberikan pada keluarga.

3) Mendokumentasikan proses dan kriteria hasil sebagai pedoman bagi perawat dalam melakukan tindakan kepada keluarga serta melakukan evaluasi

4) Mengidentifikasi fokus keperawatan kepada klien atau kelompok.

5) Membedakan tanggung jawab perawat dengan profesi kesehatan lainnya

6) Menyediakan suatu kriteria guna pengulangan dan evaluasi keperawatan.

7) Menyediakan suatu pedoman dalam penulisan.

8) Menyediakan kriteria hasil (outcomes) sebagai pedoman dalam melakukan evaluasi keperawatan keluarga.

 

 

c. Prioritas masalah 

Salah satu cara yang lazim digunakan untuk memprioritaskan masalah keperawatan keluarga adalah dengan menggunakan skoring. Komponen dari prioritas masalah keperawatan keluarga adalah kriteria, bobot, dan pembenaran. Kriteria prioritas masalah keperawatan keluarga adalah berikut ini.

1) Sifat masalah. Kriteria sifat masalah ini dapat ditentukan dengan melihat katagori diagnosis keperawatan. Adapun skornya adalah, diagnosis keperawatan potensial skor 1diagnosis keperawatan risiko skor 2, dan diagnosis keperawatan aktual dengan skor 3.

2) Kriteria kedua, adalah kemungkinan untuk diubah. Kriteria ini dapat ditentukan dengan melihat pengetahuan, sumber daya keluarga, sumber daya perawatan yang tersedia, dan dukungan masyarakatnya. Kriteria kemungkinan untuk diubah ini skornya terdiri atas, mudah dengan skor 2, sebagian dengan skor 1, dan tidak dapat dengan skor nol.

3)  Kriteria ketiga, adalah potensial untuk dicegah. Kriteria ini dapat ditentukan dengan melihat kepelikan masalah, lamanya masalah, dan tindakan yang sedang dilakukan. Skor dari kriteria ini terdiri atas, tinggi dengan skor 3, cukup dengan skor 2, dan rendah dengan skor 1.

4) Kriteria terakhir adalah menonjolnya masalah. Kriteria ini dapat ditentukan berdasarkan persepsi keluarga dalam melihat masalah. Penilaian dari kriteria ini terdiri atas, segera dengan skor 2, tidak perlu segera skornya 1, dan tidak dirasakan dengan skor nol 0.

 

Adapun tata cara perhitungannya sebagai berikut :

1) Tentukan skor dari masing-masing kriteria untuk setiap masalah keperawatan yang terjadi. Skor yang ditentukan akan dibagi dengan nilai tertinggi, kemudian dikalikan bobot dari masing-masing kriteria. Bobot merupakan nilai konstanta dari tiap kriteria dan tidak bisa diubah (Skor/angka tertinggi x bobot).

2)  Jumlahkan skor dari masing-masing kriteria untuk tiap diagnosis keperawatan keluarga.

3) Skor tertinggi yang diperoleh adalah diagnosis keperawatan keluarga yang prioritas. Skoring yang dilakukan di tiap-tiap kriteria harus diberikan pembenaran sebagai justifikasi dari skor yang telah ditentukan oleh perawat, Justifikasi yang diberikan berdasarkan data yang ditemukan dari klien dan keluarga.

 

d. Perumusan tujuan 

Tujuan merupakan hasil yang ingin dicapai untuk mengatasi masalah keperawatanyang terjadi pada klien. Dalam suatu tujuan terdapat kriteria hasil yang mempunyai komponen sebagai berikut. S (subjek), P (predikat), K (kriteria), K (kondisi), W (waktu) dengan penjabaran sebagai berikut.

S : Perilaku pasien yang diamati.

P : Kondisi yang melengkapi pasien.

K : Kata kerja yang dapat diukur atau untuk menentukan tercapainya tujuan.

K : Sesuatu yang menyebabkan asuhan diberikan.

W : Waktu yang ingin dicapai.

Kriteria hasil (hasil yang diharapkan) adalah standar evaluasi yang merupakan gambaran tentang faktor-faktor yang dapat memberi petunjuk bahwa tujuan telah tercapai dan digunakan dalam membuat pertimbangan. Kriteria hasil yang dibuat harus dapat diukur, dilihat, dan didengar. Penulisan kriteria hasil, menggunakan kata-kata positif bukan menggunakan kata negatif. 

Perumusan tujuan dan kriteria hasil yang efektif dilakukan bersama keluarga, karena keluarga bertanggung jawab terhadap kehidupannya dan perawat perlu menghormati keyakinan keluarga. Tujuan yang dirumuskan ada dua, yaitu tujuan jangka panjang dan tujuan jangka Pendek. 

Contoh: 

Tujuan jangka panjang. Setelah dilakukan tindakan keperawatan dalam waktu 4 minggu, jalan nafas anak S dari keluarga Bapak X, efektif kembali. 

Tujuan jangka pendek dibuat berdasarkan tugas keluarga yang bermasalah. Setelah pertemuan 3 x 45 menit, keluarga dapat mengenal masalah pneumonia dengan menjelaskan kembali pengertian ISPA, penyebab, dan tanda serta gejalanya

 

e. Penyusunan rencana tindakan 

Setelah merumuskan tujuan, langkah selanjutnya adalah menyusun rencana tindakan. Rencana tindakan ini disesuaikan dengan tugas keluarga yang terganggu. Tugas kesehatan keluarga tersebut adalah kemampuan keluarga mengenal masalah kesehatan, kemampuan keluarga mengambil keputusan yang tepat, kemampuan keluarga dalam merawat anggota keluarga yang sakit, kemampuan keluarga dalam memodifikasi lingkungan rumah yang sehat, dan kemampuan keluarga dalam memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan yang ada. Berikut ini akan diuraikan rencana tindakan berdasarkan tugas kesehatan keluarga adalah sebagai berikut.

1) Rencana tindakan untuk membantu keluarga dalam rangka menstimulasi kesadaran dan penerimaan terhadap masalah keperawatan keluarga adalah dengan memperluas dasar pengetahuan keluarga, membantu keluarga untuk melihat dampak atau akibat dari situasi yang ada, menghubungkan antara kebutuhan kesehatan dengan sasaran yang telah ditentukan, dan mengembangkan sikap positif dalam menghadapi masalah.

2) Rencana tindakan untuk membantu keluarga agar dapat menentukan keputusan yang tepat, sehingga dapat menyelesaikan masalahnya, yaitu berdiskusi dengan keluarga tentang, konsekuensi yang akan timbul jika tidak melakukan tindakan, alternative tindakan yang mungkin dapat diambil, serta sumber-sumber yang diperlukan dan manfaat dari masing-masing alternatif tindakan.

3) Rencana tindakan agar keluarga dapat meningkatkan kepercayaan diri dalam memberikan perawatan terhadap anggota keluarga yang sakit. Perawat dapat melakukan tindakan antara lain dengan mendemonstrasikan tindakan yang diperlukan, memanfaatkan fasilitas atau sarana yang ada di rumah, dan menghindari hal-hal yang merintangi keberhasilan keluarga dalam merujuk klien atau mencari pertolongan pada petugas kesehatan.

4) Untuk meningkatkan kemampuan keluarga dalam menciptakan lingkungan yang menunjang kesehatan, antara lain dengan membantu keluarga mencari cara untuk menghindari adanya ancaman dan perkembangan kepribadian anggota keluarga, membantu keluarga memperbaiki fasilitas fisik yang ada, menghindari ancaman psikologis dengan memperbaiki pola komunikasi, memperjelas peran masing-masing anggota keluarga, dan mengembangkan kesanggupan keluarga untuk memenuhi kebutuhan psikososial.

5) Rencana tindakan berikutnya untuk membantu keluarga dalam memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada. Perawat harus mempunyai pengetahuan yang luas dan tepat tentang sumber daya yang ada di masyarakat dan cara memanfaatkannya.

 

 

 

4. Tindakan Keperawatan Kepada Keluarga

Tindakan perawat adalah upaya perawat untuk membantu kepentingan klien, keluarga, dan komunitas dengan tujuan untuk meningkatkan kondisi fisik, emosional, psikososial, serta budaya dan lingkungan, tempat mereka mencari bantuan. Tindakan keperawatan adalah implementasi/pelaksanaan dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang spesifik. Tahap pelaksanaan dimulai setelah rencana tindakan disusun dan ditujukan pada nursing order untuk membantu klien mencapai tujuan yang diharapkan. Tujuan dari pelaksanaan adalah membantu klien dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan, yang mencakup peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, pemulihan kesehatan, dan memfasilitasi koping. Dalam tahap ini, perawat harus mengetahui berbagai hal di antaranya bahaya-bahaya fisik dan perlindungan pada klien, teknik komunikasi, kemampuan dalam prosedur tindakan, pemahaman tentang hak-hak dari pasien, serta pemahaman tingkat perkembangan pasien.

Pelaksanaan tindakan keperawatan yang telah direncanakan adalah dengan menerapkan teknik komunikasi terapeutik. Dalam melaksanakan tindakan perlu melibatkan seluruh anggota keluarga dan selama tindakan, perawat perlu memantau respon verbal dan nonverbal pihak keluarga. Tindakan keperawatan keluarga mencakup hal-hal sebagai berikut.

a. Menstimulasi kesadaran atau penerimaan keluarga mengenai masalah dan kebutuhan kesehatan dengan cara:

1) memberikan informasi;

2) memberikan kebutuhan dan harapan tentang kesehatan.

b. Menstimulasi keluarga untuk memutuskan cara perawatan yang tepat, dengan cara:

1) mengidentifikasi konsekuensi tidak melakukan tindakan;

2) mengidentifikasi sumber-sumber yang dimiliki keluarga;

3) mengidentifikasi tentang konsekuensi tipe tindakan.

c. Memberikan kepercayaan diri dalam merawat anggota keluarga yang sakit, dengan cara:

1) mendemonstrasikan cara perawatan;

2) menggunakan alat dan fasilitas yang ada di rumah;

3) mengawasi keluarga melakukan perawatan.

d. Membantu keluarga untuk menemukan cara bagaimana membuat lingkungan menjadi sehat, yaitu dengan cara:

1) menemukan sumber-sumber yang dapat digunakan keluarga;

2) melakukan perubahan lingkungan keluarga seoptimal mungkin.

e. Memotivasi keluarga untuk memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada dengan cara:

1) mengenalkan fasilitas kesehatan yang ada di lingkungan keluarga;

2) membantu keluarga menggunakan fasilitas kesehatan yang ada.

 

 

5. Tahap tindakan keperawatan keluarga  

Dalam pelaksanaannya, ada tiga tahapan dalam tindakan keperawatan sebagai berikut.

a. Tahap Persiapan

Pada tahap awal ini, Anda sebagai perawat harus menyiapkan segala sesuatu yang akan diperlukan dalam tindakan. Persiapan meliputi kegiatan-kegiatan seperti berikut ini.

1) Review tindakan keperawatan diidentifikasi pada tahap perencanaan. Perlu dipahami bahwa pada dasarnya prinsip dari tindakan keperawatan disusun untuk melakukan upaya promosi, mempertahankan, dan memulihkan kesehatan klien/keluarga. Ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi dalam pelaksanaan tindakan keperawatan keluarga, antara lain:

a) konsisten sesuai dengan rencana tindakan;

b) berdasarkan prinsip-prinsip ilmiah;

c) ditujukan kepada individu sesuai dengan kondisi klien;

d) digunakan untuk menciptakan lingkungan yang terapeutik dan aman;

e) memberikan penyuluhan dan pendidikan kepada klien;

f) penggunaan sarana dan prasarana yang memadai.

2) Menganalisa pengetahuan dan keterampilan keperawatan yang diperlukan. Perawat harus mengidentifikasi tingkat pengetahuan dan tipe keterampilan yang diperlukan untuk tindakan keperawatan.

3) Mengetahui komplikasi dari tindakan keperawatan yang mungkin timbul. Prosedur tindakan keperawatan mungkin berakibat terjadinya resiko tinggi kepada klien. Perawat harus menyadari kemungkinan timbulnya komplikasi sehubungan dengan tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan. Keadaan yang demikian ini memungkinkan perawat untuk melakukan pencegahan dan mengurangi resiko yang timbul.

4) dMenentukan dan mempersiapkan peralatan yang diperlukan, harus mempertimbangkan beberapa hal sebagai berikut.

a) Waktu.

Perawat harus dapat menentukan waktu secara selektif.

b) Tenaga. 

Perawat harus memperhatikan kuantitas dan kualitas tenaga yang ada dalam melakukan tindakan keperawatan.

c) Alat.

Perawat harus mengidentifikasi peralatan yang diperlukan pada tindakan.

5) Mempersiapkan lingkungan yang kondusif. Keberhasilan suatu tindakan keperawatan sangat ditentukan oleh perasaan klien yang aman dan nyaman. Lingkungan yan nyaman mencakup komponen fisik dan psikologis.

6)  Mengidentifikasi aspek hukum dan etika terhadap resiko dari potensial tindakan. Pelaksanaan tindakan keperawatan harus memperhatikan unsur-unsur hak dan kewajiban klien, hak dan kewajiban perawat atau dokter, kode etik perawatan, dan hukum keperawatan.

b. Tahap Perencanaan

Fokus pada tahap pelaksanaan tindakan keperawatan adalah kegiatan pelaksanaan tindakan dari perencanaan untuk memenuhi kebutuhan fisik dan emosional. Tindakan keperawatan dibedakan berdasarkan kewenangan dan tanggung jawab perawat secara profesional sebagaimana terdapat dalam standar praktik keperawatan.  Tindakan keperawatan dapat dikategorikan menjadi tiga (3) tipe sebagai berikut.

1) Tindakan Independen

Tindakan yang dilakukan oleh perawat untuk membantu mengatasi masalah kesehatan klien dan keluarga secara mandiri. Tindakan tersebut meliputi kegiatan-kegiatan berikut ini.

a) Wawancara dengan klien untuk mendapatkan data, guna mengidentifikasi perkembangan kondisi klien atau untuk mengidentifikasi masalah baru yang muncul.

b) Observasi dan pemeriksaan fisik. Tindakan untuk mendapatkan data objektif yang meliputi, observasi kesadaran, tanda–tanda vital, dan pemeriksaan fisik.

c) Melakukan pemeriksaan laboratorium sederhana.

d) Tindakan terapeutik

Tindakan yang ditujukan untuk mengurangi, mencegah, dan mengatasi masalah klien. Misalnya: Klien stroke yang tidak sadar dengan paralise, maka tindakan terapeutik yang dilakukan perawat dalam mencegah terjadinya gangguan integritas kulit adalah dengan melakukan mobilisasi dan memberikan bantal air, pada bagian tubuh yang tertekan dan mengenali tanda-tanda terjadinya hipoglikemi dan cara mengatasinya.

e) Tindakan edukatif (mengajarkan). 

Ditujukan untuk mengubah perilaku klien melalui promosi kesehatan dan pendidikan kesehatan kepada klien. Misalnya, perawat mengajarkan kepada keluarga tentang pembuatan cairan oralit dan senam kaki diabetic

f) Tindakan merujuk.

 Tindakan ini lebih ditekankan pada kemampuan perawat dalam mengambil suatu keputusan klinik tentang keadaan klien dan kemampuan untuk melakukan kerja sama dengan tim kesehatan lainnya. Misalnya, klien pasca trauma kepala, ditemukan adanya tanda-tanda tekanan intrakranial yang meningkat, maka perawat harus mengkonsultasikan atau merujuk klien kepada dokter ahli saraf untuk mendapatkan penanganan yang tepat dan cepat dalam mencegah terjadinya komplikasi yang lebih parah.

2) Tindakan Interdependen

Tindakan keperawatan interdependen menjelaskan suatu kegiatan yang memerlukan suatu kerja sama dengan tenaga kesehatan lainnya.  Misalnya, tenaga sosial, ahli gizi, fisioterapi

3) Tindakan Dependen

Tindakan ini berhubungan dengan pelaksanaan rencana tindakan medis. Tindakan

tersebut menandakan suatu cara bahwa tindakan medis atau tindakan profesi lain dilaksanakan. 

 

 

6. Evaluasi Asuhan Keperawatan Keluarga

Evaluasi keperawatan keluarga merupakan tahap kelima atau tahap terakhir dari proses keperawatan. Tahap evaluasi ini akan menilai keberhasilan dari tindakan yang telah dilaksanakan. Indikator evaluasi keperawatan adalah kriteria hasil yang telah ditulis pada tujuan ketika perawat menyusun perencanaan tindakan keperawatan. 

a. Definisi 

Evaluasi adalah tindakan untuk melengkapi proses keperawatan yang menandakan seberapa jauh diagnosa keperawatan, rencana tindakan, dan pelaksanaannya sudah berhasil dicapai, meskipun tahap evaluasi diletakkan pada akhir proses keperawatan. Evaluasi merupakan bagian integral pada setiap tahap proses keperawatan. Evaluasi didasarkan pada bagaimana efektifnya intervensi atau tindakan yang dilakukan oleh keluarga, perawat dan yang lainnya. Keefektifan ditentukan dengan melihat respon keluarga dan hasil, bukan intervensi-intervensi yang diimplementasikan . Evaluasi merupakan proses berkesinambungan yang terjadi setiap kali seorang perawat memperbarui rencana asuhan keperawatan. 

b. Tujuan evaluasi

Tujuan evaluasi adalah untuk melihat kemampuan klien dalam mencapai tujua  berdasarkan respon klien terhadap tindakan keperawatan yang diberikan, sehingga perawat dapat mengambil keputusan untuk mengakhiri rencana tindakan keperawatan,  memodifikasi rencana tindakan keperawatan dan melanjutkan rencana tindakan keperawatan.

c. Proses evaluasi

Mengukur pencapaian tujuan klien.

1) Kognitif (pengetahuan)

Untuk mengukur pemahaman klien dan keluarga setelah diajarkan teknik-teknik perawatan tertentu. Metode evaluasi yang dilakukan, misalnya dengan melakukan wawancara pada klien dan keluarga. Contoh, setelah dilakukan pendidikan kesehatan tentang pencegahan TB Paru, klien dan keluarga ditanya kembali tentang bagaimana cara pencegahan TB Paru.

2) Afektif (status emosional)

Cenderung kepenilaian subjektif yang sangat sulit diukur. Metode yang dapat dilakukan adalah observasi respon verbal dan nonverbal dari klien dan keluarga, serta mendapatkan masukan dari anggota keluarga lain.

3) Psikomotor (tindakan yang dilakukan)

Mengukur kemampuan klien dan keluarga dalam melakukan suatu tindakan atau terjadinya perubahan perilaku pada klien dan keluarga. Contoh, setelah perawat mengajarkan batuk efektif, klien diminta kembali untuk mempraktikkan batuk efektif sesuai dengan yang telah dicontohkan.

 

d. Metode dan strategi evaluasi 

1) Observasi 

Melakukan pengamatan terhadap perubahan perilaku dari anggota keluarga yang mempunyai masalah kesehatan.

2) Memeriksa laporan atau dokumentasi keperawatan

Perawat perlu memeriksa kembali laporan atau catatan keperawatan yang telah ditulis oleh tim keperawatan setelah melaksanakan intervensi keperawatan.

3) Wawancara atau angket

Membuat daftar pertanyaan atau angket yang ditujukan pada keluarga untuk mengetahui kemajuan kondisi kesehatannya. Pengambilan data dilakukan dengan metode wawancara.

4) Latihan/simulasi/redemonstrasi

Perawat mengevaluasi kemampuan perawat dalam melakukan suatu tindakan untuk merawat anggota keluarga yang sakit dengan meminta keluarga untuk melakukan kembali

 

 

 

 

 

 

Referensi 

Anderson, T.Elizabeth, Farlen, Mc. Judith. 2000. Community As Partner Theory and Practice in Nursing. Philadelpia. Lippincott.

 

Friedman, M.M, Bowden, V.R. & Jones, E.G. 2003. Family nursing: Research, Theory & Practice. (5th ed.), New Jersey: Prentice Hall.

 

Friedman, M.M. 1998. Family nursing: Research, Theory & Practice. (4th ed.), California: Appleton and Lange.

 

NANDA. 2014. Diagnosis Keperawatan, EGC. Jakarta

 

Stanhope, M. & Lancaster. J. 2009. Community health nursing. Process and practice for  promoting health. Mosby Company, USA.

 

Departemen Kesehatan RI .(2003). Kemitraan menuju Indonesia sehat 2010. Jakarta: Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan RI.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ETIKA PENELITIAN

STRATEGI DALAM EVIDENCE BASED PRACTICE

PROGRAM PEMBERDAYAAN KADER DALAM PENCEGAHAN DBD DI DUSUN JUBEL DESA BANTUR KECAMATAN BANTUR (abstrak) prepubliskasi