Langkah Evidence Based Practice
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Langkah Evidence Based Practice
Untuk memahami lebih dalam tentang implementasi Evidence Based Practice, harus dipahami bahwa pada dasarnya pelaksanaan Evidence Based Practice adalah merupakan rangkaian kegiatan yang sangat kompleks. Para pakar sebenarnya telah banyak mengembangkan model untuk implementasi Evidence Based Practice seperti, ACE Star Model, IOWA model dan lain sebagainya.
Namun pada dasarnya berbagai model tersebut adalah memiliki tujuan yang sama yakni, memandu dan mempermudah proses pelaksanaan Evidence Based Practice. Dalam penjelasan kali ini, akan dijabarkan panduan dan langkah menurut Melnyk & Fineout-Overholt (Melnyk & Fineout-Overholt, 2011) yang terjadi menjadi tujuh langkah konkrit berikut :
A. Langkah 0 : menumbuhkan rasa ingin tahu (Cultivate a spirit of inquiry)
Dalam upaya menumbuhkan budaya Evidence Based Practice terdapat beberapa elemen yang harus diperhatikan, yaitu :
1. Semangat atau rasa ingin tahu adalah dimana semua merasa termotivasi untuk selalu memiliki pertanyaan terhadap praktek pelayanan yang dilakukannya sehari – hari.
2. Adanya filosofi, misi, dan dukungan organisasi terhadap implementasi Evidence Based Practice.
3. Adanya mentor yang membantu dalam implementasi awal Evidence Based Practice yang memiliki pengetahuan, pemahaman, keahlian dalam perencanaan dan implementasi Evidence Based Practice.
4. Tersedianya infrastruktur yang dapat membantu kelancaran implementasi Evidence Based Practice (jaringan internet, kemampuan untuk akses ke Data Base jurnal dan literature yang relevan, adanya pelatihan – pelatihan implementasi Evidence Based Practice, dibentuknya kelompok – kelompok kritisi jurnal (Jurnal Club), dan lain sebagainya)
5. Ketersediaan dukungan seluruh pemangku kepentingan terhadap masalah – masalah yang bersifat administratif berupa kebijakan dan peraturan, serta pola kepemimpinan yang mengarahkan dan menuju terciptanya keberlanjutan budaya Evidence Based Practice.
6. Adanya pengakuan dan penghargaan terhadap individu maupun kelompok dalam suatu organsiasi yang secara konsisten mengimplemntasikan Evidence Based Practice.
B. Langkah 1 : Ajukan pertanyaan klinis dalam format PICOT (Ask the burning clinical question in the PICOT format)
Keberhasilan pemberian asuhan keperawatan atau pelayananan kesehatan secara umum terhadap pasien adalah ditentukan oleh ketersediaan informasi yang up to date. Selanjutnya ketersediaan informasi tersebut juga dipengaruhi oleh kemampuan pencari informasi untuk mendapatkan informasi secara cepat, tepat dan akurat dari sumber yang dapat dipercaya.
Namun pada kenyataannya masalah yang terjadi adalah pencari informasi akan mengalami kesulitan untuk mendapatkan informasi yang tepat dan pada saat yang tepat (finding right information at the right time). Life long learning skills seperti membuat pertanyaan yang terfokus, mencari sumber informasi yang tepat secara efisien adalah sangat diperlukan untuk dimiliki.
Harus diingat, bahwa pada saat proses pencarian informasi, dapat dibaratkan seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami (A Needle in a Haystack) (Melnyk & Fineout-Overholt, 2011). Untuk mendapatkan jarum yang dimaksud harus diketahui karakteristik dan ciri – ciri dari jarum tersebut. Memformulasikan pertanyaan klinis adalah di ibaratkan seperti mengidentifikasi karakteristik pada jarum yang dimaksud.
Untuk dapat memformulasikan pertanyaan klinis yang baik perlu dipahami dua jenis pertanyaan klinis yakni background questions dan foreground questions. Background questions adalah pertanyaan yang mendasar seputar masalah klinis yang ada, biasanya seputar apa, dimana, kapan, kenapa, bagaimana (5W+1H) dan luaran yang dikehendaki.
Contoh dari background questions adalah “bagaimanakah acethaminophen bekerja dalam mengatasi demam?”, “metode apa yang efektif untuk mencegah terjadinya luka dekubitus pada psiesn selama masa perawatan?”.
Sementara itu, foreground questions adalah pertanyaan yang hanya bisa terjawab melalui bukti – bukti ilmiah terkait diagnosis, perawatan, atau upaya pendampingan pasien dalam prognosis penyakit yang diderita, pertanyaan ini berfokus pada pengetahuan yang lebih spesifik.
Pada contoh pertanyaan background questions diatas jika dikembangkan menjadi foreground questions kurang lebih adalah seperti contoh berikut. “pada pasien anak – anak, seberapa efektif kinerja acethaminophen dibanding ibuprofen dalam mengatasi demam?”, selanjutnya “pada pasien yang beresiko mengalami luka tekan dekubitus, bagaimanakah penggunaan matras dibandingkan dengan menggunakan lapisan tekanan mempengaruhi kejadian luka tekan dekubitus.
Hal yang terpenting untuk dipahami adalah background questions penting untuk ditanyakan terlebih dahulu dan ditemukan jawabannya untuk kemudian mengajukan pertanyaan foreground questions. Kajian tentang formulasi pertanyaan klinis dalam format PICOT (P: problem, population of interest; I : intervention / issue of interest; C: comparisson of interest; O: outcome expected; T: time for the intervention achieve the outcome) telah dilakukan oleh Huang, Lin, and Demnar-Fushman (2006).
Format PICOT menyediakan kerangka kerja yang efisien untuk mencari data Based elektronik, yang dirancang untuk mengambil hanya artikel – artikel yang relevan dengan pertanyaan klinis. Menggunakan skenario kasus pada waktu respon cepat sebagai contoh, cara untuk membingkai pertanyaan tentang apakah penggunaan waktu tersebut akan menghasilkan hasil yang positif akan menjadi: "di bangsal perawatan akut (pasien/Population), bagaimana memiliki waktu respon cepat (Intervensi) dibandingkan dengan tidak memiliki waktu respon cepat (perbandingan/Comparison) mempengaruhi jumlah serangan jantung (hasil/Outcome) selama periode tiga bulan (waktu/Time)? "
Pertanyaan klinis dalam format PICOT untuk menghasilkan evidence yang lebih baik dan relevan.
1. Populasi pasien (P)
2. Intervensi (I)
3. Perbandingan intervensi atau kelompok (C)
4. Hasil (O), dan
5. Waktu (T).
Secara lebih eksplisit Melnyk & Fineout-Overholt (2011) menjabarkan definisi dan jenis pertanyaan yang mengacu kepada formulasi PICOT dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, diantaranya adalah :
1. Intervensi / intervention
Pertanyaan terkait intervensi ini diarahkan kepada bagaimana isu klinis atau bagaimana suatu penyakit seharusnya mendapat perlakuan. Contohnya, “pada remaja wanita yang berasal dari suku jawa yang mengidap hepatitis B (P), bagaimanakah acetaminophen (I), dibandingkan dengan ibuprofen (C), mempengaruhi fungsi liver?“
2. Etiologi / etiology
Pertanyaan terkait etiologi ini diarahkan kepada pencarian penyebab dari suatu masalah isu klinis. Salah satu contoh rumusan pertanyaan etiologi ini adalah “bagaimanakah wanita yang berusia 30- 50 tahun (P) yang mempunyai tekanan darah tinggi (I) dibandingkan dengan yang tidak mempunyai tekanan darah tinggi (C) mempunyai resiko terjadinya infark miokard akut (O) selama selang tahun pertama setelah dilakukan operasi histerektomi (T)?”
3. Diagnosa / diagnosis
Pertanyaan terkait diagnosa ini diarahkan kepada proses mengidentifikasi atau menentukan penyebab munculnya masalah klinis atau penyakit. Salah satu contoh rumusan pertanyaan diagnosa adalah “pada kelompok laki – laki dewasa dengan IMA (P), apakah pemeriksaan serial 12 lead ECG (I), dibandingkan dengan pemeriksaan awalan 12 lead ECG (C) lebih akurat dalam mendiagnosa IMA (O) ?“
4. Perkiraan /prognosis
Pertanyaan terkait diagnosa ini diarahkan untuk memprediksi perjalanan penyakit dimasa depan proses . Salah satu contoh rumusan pertanyaan prognosis adalah “untuk pasien yang berusia 65 tahun keatas (P), bagaimanakah penggunaan vaksin influenza (I), dibandingkan dengan yang tidak mendapatkan vaksin (C), mempengaruhi resiko kejadian pneumonia (O), pada saat musim flu (T)?”
5. Arti / meaning
Pertanyaan terkait arti ini diarahkan untuk mengetahui bagaimana pengalaman seseorang terhadap suatufenomena tertentu. Salah satu contoh rumusan pertanyaan meaning adalah pada laki – laki muda beruisa 20an tahun (P) dengan diagnosa kelumpuhan pinggang bagian bawah (I) mempersepsikan hubungan dengan pasangan hidup (O) dalam tahun pertama setelah diagnosa ditegakkan (T)
C. Langkah 2 : Cari dan kumpulkan bukti-bukti yang relevan dan terbaik (Search for and collect the most relevant best evidence).
Pada praktek sehari – hari, banyak sekali dijumpai sumber informasi (misalnya; jurnal ilmiah penelitian, laporan pelaksanaan asuhan keperawatan, informasi tentang pasien, serta dari berbagai buku teks) yang dapat digunakan untuk merubah pola perawatan terhadap pasien atau standar operasional prosedur protokoler (buku panduan atau standar operasional prosedur yang dirasa sudah tidak layak (outdated).
Sebagai contoh, seorang pasien yang dirawat diruangan ICU, sedang menjalani pengobatan fibrilasi atrium pada jantung yang diketahui cukup sulit untuk diatasi selain memiliki angka keberhasilan yang relative kecil.
Setelah menjalani berbagai upaya yang panjang, tim medis menyampaikan bahwa penggunaan Clonidin (regimen yang dikenal baik sebagai obat anti-hipertensi), cukup efektif sebagai terapi pengobatan penyakit yang serupa. Setelah melalui berbagai metode pengobatan yang dilakukan, ia menjadi sadar tentang pentingnya pengobatan yang telah diprogramkan, namun demikian terdapat potensi bahwa pasien tersebut juga akan menjadi cemas dan khawatir terhadap prognosis penyakitnya tersebut.
Selanjutnya, pasien mungkin akan menanyakan solusi bagaimana supaya dia tidak cemas. Sementara anggota tim kesehatan yang lain mencari bukti – bukti efektifitas dari penggunaan clonidin, anda memformulasikan pertanyaan kedalam format pertanyaan PICOT terkait upaya menurunkan kecemasan pasien ; “pada pasien dewasa yang sedang menjalani perawatan di ruang ICU (P), bagaimanakah terapi musik (I), dibandingkan dengan terapi relaksasi nafas dalam (C), mempengaruhi tingkat kecemasan selama dirawat dirumah sakit (O)?” Dengan menggunakan metode formulasi pertanyaan PICOT sebagai panduan, maka pencarian bukti – bukti (searching for evidence) yang sesuai untuk akan dapat dengan mudah dilakukan serta dapat dengan tepat menjawab pertanyaan klinis yang diajukan.
Menemukan informasi yang sesuai dan tepat untuk menjawab pertanyaan klinis sangat bergantung kepada jenis sumber informasi. Jika seseorang hanya mencari informasi hanya dari satu sumber, kemungkinan besar dia akan menyimpulkan bahwa tidak tersedia sumber informasi (evidence) yang ia temukan untuk menjawab pertanyaannya.
Contohnya, seseorang mencoba mencari salah satu tema penelitian yang menggunakan metode Randomized Controlled Trial untuk menjawab pertanyaan klinis yang diajukannya dan hanya di searching engine web biasa (yahoo, google, dsb), maka dia mungkin tidak akan menemukan penelitian dengan metode itu, kecuali hanya akan menemukan penelitian studi kasus biasa atau bentuk tulisan – tulisan biasa lainnya yang tidak ilmiah.
Karena waktu adalah sangat berharga untuk menemukan bukti – bukti untuk menawab pertanyaan klinis, maka pencarian informasi bukti yang sudah dikaji kualitas metodologi penelitiiannya serta reliabilitas temuan adalah hal yang sangat dibutuhkan. Hal ini dinamakan preappraised literare dan dapat bervariasi jenisnya mulai dari meta-analytic systematic review sampai sinopsis dari penelitian tunggal. Contoh dari jenis penelitian yang cocok untuk menjawab pertanyaan klinis secara umum sebagaimana dipaparkan dalam tabel 3.1 dibawah ini.
Tabel 3.1
Contoh pertanyaan klinis
| Bukti terbaik (best evidence) untuk menjawab pertanyaan tersebut |
Pada pasien yang mengalami sindrom gangguan pernafasan akut, seberapa efektifkah posisi prone dibanding dengan posisi supine dalam weaning parameter ? | Systematic reviews and meta-analyses Single RCTs |
Pada wanita hamil, bagaimanakah perawatan prenatal dibandingkan dengan tanpa perawatan prenatal mempengaruhi keamanan kelahiran dan kesehatan bayi ? | Well-controlled, nonrandomized experimental studies |
Bagaimanakah pasangan yang mempunyai anggota keluarga yang menderita penyakit alzheimer melihat kemampuannya dalam memberikan perawatan? | Qualitative studies |
Bagaimana mekanisme koping dari orang tua yang kehilangan anakmya karena mengidap AIDS | Descriptive studies |
Bagaimanakah standar operasional prosedur pencegahan dan penanganan stroke pada fasilitas perawatan kronis? | Evidence- Based clinical practice guidelines Opinion reports of experts and professional organizations |
Selanjutnya, strategi dalam pencarian suatu evidence sangat dianjurkan oleh para pakar untuk mencari literatur yang telah disintesis dan telah melalui proses peer review di data Based online seperti Cochrane Data Based of Systematic Reviews [CDSR], Data Based of Reviews of Effectiveness [DARE], American College of Physicians [ACP] Journal Club, and the journal, Evidence- Based Nursing [EBN)] dan lain sebagainya.
Untuk dapat memahami secara lebih terkait metode pencarian pada data Based yang dimaksud, anda disarankan untuk dapat membaca lebih lanjut pada buku “Evidence Based Practice In Nursing And Health Care, A Guide To Best Practice dari Melnyk dan Fineout-Overholt (2011) halaman 45 – 70 serta sumber lain yang relevan.
D. Langkah 3 : penilaian kritis terhadap bukti – bukti yang telah didapat (Critically appraise the evidence).
Setelah mendapatkan literatur yang cukup, maka langkah selanjutnya adalah bagaimana menilai kualitas literatur yang didapat tersebut. Berikut ini akan dijelaskan secara ringkas langkah – langkah penilaian kritis terhadap sumber bukti / Appraising Knowledge Sources, yakni dengan melakukan penilaian terhadap sumber – sumber pengetahuan yang ada. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, sumber tersebut bisa didapatkan dari teori – teori yang relevan dari buku, hasil riset, opini dan pengalaman para pakar, serta panduan prosedural praktek klinis.
Sumber evidence yang terbaik sering diartikan atau di urutkan dari systematic review dari penelitian rancomeized control trial /RCT sampai ke level terendah yakni pendapat atau opini pakar. Namun demikian, pengkategorian sumber evidence tidak sesederhana seperti yang diuraikan diatas.
Menurut Agency for Health Research and Quality (AHRQ) (2002), pengkategorian sumber evidence harus memperhatikan 3 (tiga) hal berikut:
1. Kualitas
Sumber evidence yang berkualitas yang dimaksud adalah yakni mengenai sejauhmana penelitian didesain, dilaksanakan, dan proses analisis dengan menggunakan proses seleksi yang minimal, serta alat ukur yang digunakan serta adanya faktor perancu (confounding factors).
2. Kuantitas
Banyaknya penelitian yang ditujukan untuk mengevaluasi pertanyan yang sama, jumlah sampel yang digunakan untuk mewakili populasi, besarnya efek perlakukan terhadap sampel, kekuatan hubungan sebab akibat yang ada seperti relative risk dan odds ratio.
3. Konsistensi
Konsistensi dari sumber evidence harus mampu menjawab apakah investigasi yang dilakukan terhadap beberapa hasil penelitian yang sama didapatkan kesimpulan yang sama.
Penilaian kritis terhadap sumber bukti merupakan ciri khas dari implementasi Evidence Based Practice (Melnyk dan Fineout-Overholt, 2011). Menurut Stevens dalam Melnyk dan Fineout-Overholt (2011) bukti/evidence pada semua bidang dalam ilmu kesehatan tersedia dalam lingkup yang sangat luas, termasuk pelayanan asuhan keperawat an, penelitian ilmu perilaku, ataupun promosi kesehatan yang dapat digunakan untuk membantu menjawab berbagai pertanyaan klinis. Selanjutnya arti kata dari evidence itu sendiri secara utuh dapat diterima dalam membantu mengembangkan praktek klinis /best practice, yang meliputi :
1. Research evidence
2. Pengetahuan klinis yang diperoleh sesorang melalui kegiatan praktek sehari – hari
3. Saran dan harapan dari pasien atau pakar
4. Prinsip dasar dari suatu teori
Penting untuk dipahami adalah dalam pelaksanaan Evidence Based Practice adalah bahwa ilmu pengetahuan dan bukti adalah merupakan suatu dasar pertimbangan untuk membantu menentukan keputusan klinis (Melnyk dan Fineout-Overholt, 2011).
Pada proses telaah kritis, hasil penelitian yang ada dinilai tentang kekuatan, keterbatasan, serta sumbangsih dan keterbatasan terhadap praktek (bagaimana hasil penelitian tersebut jika dilaksanakan akan menghasilkan nilai tambah bagi praktek). Dalam hal ini, seorang praktisi yang hendak Evidence Based Practice tidak hanya berfokus pada topik maupun hasil penelitian yang ada, namun juga harus mampu menilai kualitas penelitian tersebut apakah hasilnya dapat membuat suatu nilai tambah terhadap praktek.
Hal yang tidak kalah penting dalam melakukan Evidence Based Practice adalah memahami jenjang dari bukti yang ada (Hierarchy of Evidence). Hierarchy of Evidence membantu dalam memandu terkait semua jenis evidence, yang dimana jika dimanfaatkan dengan baik dan benar maka akan sangat membantu menemukan jawaban atas pertanyaan klinis yang ada. Untuk pertanyaan klinis yang terkait dengan intervensi, Hierarchy of Evidence dari penelitian kuantitatif yang mempunyai tingkat kepercayaan yang sangat tinggi serta reliabel (systematic review dari penelitian – penelitian dengan metode RCT) untuk menjawab pertanyaan – pertanyaan klinis tersebut dibandingkan dengan hasil penelitian dengan tingkat kepercayaan yang rendah (penelitian deskriptif).Hal tersebut dikarenakan karena RCT adalah dipercaya sebagai metode penelitian terbaik yang menyediakan informasi sebab akibat atau hubungan dari suatu masaah yang ada. Sedangkan systematic review dari penelitian – penelitian RCT menyediakan kompilasi atau gabungan dari berbagai penelitian yang menggunakan metode RCT untuk menjawab pertanyaan klinis yang sama. Tentu saja dalam hal ini systematic review ini lebih baik jika dibandingkan dengan hasil dari sebuah penelitian RCT tunggal saja.
Penggunaan tingkat Hierarchy of Evidence yang tepat dalam upaya menjawab pertanyaan klinis yang ada akan sangat membantu objektifitas dan meningkatkan tingkat kepercayaan dari perawat bahwa asuhan keperawatan yang diberikan akan memiliki hasil yang sama secara ilmiah. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada gambar 3 diatas.
Setelah artikel yang dipilih untuk review, selanjutnya harus dinilai untuk menentukan relevansi, validitas, keterpercayaaan, dan kesesuaian dengan pertanyaan klinis. Penilaian kritis yang cepat menggunakan tiga pertanyaan penting untuk mengevaluasi sebuah studi :
1. Apakah hasil penelitian yang ditemukan valid?
Pertanyaan diatas adalah mengenai validitas penelitian yang dikritisi yakni terkait metode penelitian yang dipilih, randomisasi subjek penelitian, dan penggunaan instrument yang tepat dan reliabel.
2. Apakah hasil penelitian layak digunakan?
Pertanyaan ini membahas apakah intervensi bekerja, bagaimana hasilnya, dan kemungkinan memperoleh hasil yang sama jika diimplementasikan kedalam praktek yang ada saat ini. Untuk studi kualitatif, ini meliputi penilaian apakah pendekatan penelitian sesuai dengan tujuan penelitian, serta evaluasi dan klarifikasi terhadap faktor lain dalam penelitian tersebut.
3. Akankah hasil membantu saya merawat pasien saya?
Pertanyaan diatas mencakup pertimbangan dalam membuat keputusan klinis. Misalnya, apakah subyek dalam penelitian memiliki kemiripan dengan pasien atau kasus yang sedang ditangani, apakah unsur kemanfaatannya lebih besar daripada risiko, bagaimana kelayakan dan efektivitas biaya, serta nilai-nilai kepercayaan dan harapan yang dianut pasien.
Setelah literatur selesai di kritisi dan dinilai, maka langkah selanjutnya adalah melakukan sisntesis untuk menentukan kesimpulan yang sama, sehingga dapat mendukung keputusan dalam Evidence Based Practice..
E. Langkah 4: Mengintegrasikan bukti dengan masalah klinis dan keinginan, harapan, dan nilai yang dianut pasien untuk membuat keputusan atau perubahan praktek. (Integrate the best evidence with one’s clinical expertise and patient preferences and values in making a practice decision or change) .
Bukti penelitian saja tidak cukup untuk membenarkan perubahan dalam praktek. Keterampilan klinis, data laboratorium, dan data dari program manajemen, serta nilai-nilai keyakinan pasien adalah komponen penting dari Evidence Based Practice. Implementasi Evidence Based Practice juga dipengaruhi oleh berbagai variabel penunjang, diantaranya kondisi terkini dari suatu lembaga dan pelaksanaan praktek klinis. Misalnya, setelah menemukan literatur kemudiaan dilakukan telaah dan kritisi ditemukan bukti yang kuat yang menunjukkan penurunan kejadian depresi pada pasien luka bakar setelah menerima delapan sesi terapi kognitif-perilaku (Cognitive Behaviour Theraphy) sebelum keluar dari rumah sakit.
Kemudian, dengan pengetahuan tersebut perawat ingin mengimplementasikan evidence tersebut kepada pasien yang sedang ditanganinya. Akan tetapi, karena ada keterbatasan anggaran yang disediakan oleh rumah sakit, serta lemahnya kemampuan dan komitmen rekan sejawat maupun tim kesehatan yang lain maka keinginan tersebut menjadi terhambat. Keadaan seperti ini yang sering menjadi hambatan implementasi Evidence Based Practice.
F. Langkah 5: Evaluasi hasil keputusan praktek atau perubahan berdasarkan bukti yang sudah dilakukan (Evaluate outcomes of the practice decision or change Based on evidence)
Setelah menerapkan Evidence Based Practice, penting untuk senantiasa mengawasi proses dan mengevaluasi hasil, sehingga efek positif dapat digunakan lebih lanjut, sementara yang negatif dapat diperbaiki. Pengawasan terhadap perubahan yang di akibatkan oleh Evidence Based Practice
Pemantauan efek dari implementasi Evidence Based Practice terhadap kualitas pelayanan asuhan keperawatan serta dapat membantu perawat mengidentifikasi intervensi yang lebih tepat dan yang paling mungkin untuk diimplementasikan. Bahkan ketika diimplementasikan menghasilkan berbeda jika dibandingkan dengan literature maka akan berguna menjadi suatu pembanding atau inovasi terhadap praktek layanan yang ada.
G. Langkah 6 : Menyebarluaskan hasil implementasi Evidence Based Practice untuk menentukan keputusan atau perubahan praktek (Disseminate the outcomes of the Evidence Based Practice decision or change).
Keberhasilan implementasi Evidence Based Practice akan berguna bagi khalayak banyak jika hal tersebut dapat disebarluaskan. Dengan hasil implementasi Evidence Based Practice yang disebarkan, kemudian bisa saja hasil tersebut akan diimplementasikan di tenpat lain selain juga menyediakan referensi pengetahuan baru bagi praktisi dalam memeberikan layanan asuhan keperawatan maupun bidang kesehatan yang lain. Dengan demikian, maka akan terjadi perbaikan kualitas pelayanan kepada pasien bukan hanya pada tempat yang diimplementasikan, akan tetapi juga bagi prakisi yang mengetahui hasil yang telah disebarluaskan tersebut.
Adapun cara – cara penyebarluasan hasil implementasi Evidence Based Practice pada umumnya adalah sama dengan penyebarluasan hasil karya ilmiah lainnya. Adapun tata cara penyebarluasannya hasil implementasi Evidence Based Practice yang dimaksud dapat melalui berbagai kegiatan seperti; presentasi pada konferensi seminar ilmiah tingkat lokal, regional, dan nasional, dan laporan dalam jurnal peer-review, media massa cetak maupun elektronik dan lain sebagainya.
Demikian uraian diatas adalah langkah – langkah yang dapat digunakan sebagai panduan untuk mengimplementasikan evidence based practice. Selanjutnya pada lampiran buku ini penulis juga telah mencantumkan tabel panduan ringkas implementasi evidence based practice untuk mempermudah proses implementasi.
Latihan!
1. Sebutkan dan jelaskan level of Evidence Based Practice!
2. Sebutkan langkah-langkah dari Evidence Based Practice!
Petunjuk Jawaban Latihan
1. Level 1: Systematic review dengan peer review; penelitian eksperimen, meta-analisis dari penelitian RCT
Level 2: Penelitian quasy-experiment (non-random)
Level 3: Penelitian non-experiment, deskriptif, komparatif, kualitatif, meta-synthesis penelitian kuantitatif
Level 4: Konsensus pakar, pengalaman klinis, pengalaman pasien, panduan klinis
Level 5: Pendapat pakar, laporan studi kasus, studi pustaka, hasil survey nasional, laporan organisasi, studi epidemiologi
2. Langkah 0: Menumbuhkan rasa ingin tahu (Cultivate a spirit of inquiry)
Langkah 1: Ajukan pertanyaan klinis dalam format PICOT (Ask the burning clinical question in the PICOT format)
Langkah 2: Cari dan kumpulkan bukti-bukti yang relevan dan terbaik (Search for and collect the most relevant best evidence).
Langkah 3: Penilaian kritis terhadap bukti – bukti yang telah didapat (Critically appraise the evidence).
Langkah 4: Mengintegrasikan bukti dengan masalah klinis dan keinginan, harapan, dan nilai yang dianut pasien untuk membuat keputusan atau perubahan praktek. (Integrate the best evidence with one’s clinical expertise and patient preferences and values in making a practice decision or change).
Langkah 5: Evaluasi hasil keputusan praktek atau perubahan berdasarkan bukti yang sudah dilakukan (Evaluate outcomes of the practice decision or change Based on evidence).
Langkah 6 : Menyebarluaskan hasil implementasi Evidence Based Practice untuk menentukan keputusan atau perubahan praktek (Disseminate the outcomes of the Evidence Based Practice decision or change).
Ringkasan
Pelaksanaan Evidence Based Practice adalah merupakan rangkaian kegiatan yang sangat kompleks. Para pakar sebenarnya telah banyak mengembangkan model untuk implementasi Evidence Based Practice seperti, ACE Model, IOWA model dan lain sebagainya. Namun pada dasarnya berbagai model tersebut adalah memiliki tujuan yang sama yakni, memandu dan mempermudah proses pelaksanaan Evidence Based Practice.
Daftar Pustaka:
Allender et al., 2013. Community & Public Health Nursing, Promoting The Public Health 8th edition. Wolter Kluwer Health Lippincot William & Wilkins.
Ellen Fineout-Overholt RN, PhD and Linda Johnston RN, PhD. 2011. Teaching EVIDENCE BASED PRACTICE: Implementation of Evidence: Moving from Evidence to Action
Jylha V, Oikarainen A, Perala M. & Holopainen A. 2017. Facilitating Evidence Based Practice In Nursing And Midwifery In The WHO European Region. WHO. Denmark
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar