QUALITY ASSURANCE IN COMMUNITY HEALTH NURSING
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
JAMINAN MUTU DALAM KEPERAWATAN KESEHATAN KOMUNITAS
(QUALITY ASSURANCE IN COMMUNITY HEALTH NURSING)
Oleh
YUYUD WAHYUDI, M.N.S
A. PENDAHULUAN
Dalam keperawatan kesehatan komunitas, jaminan mutu (quality assurance in community health nursing) merupakan suatu pendekatan yang sangat penting dan mendasar dalam praktik layanan kesehatan kepada pasien. Mengingat pada dasarnya seorang perawat profesional harus senantiasa berupaya untuk memberikan pelayanan keperawatan yang mempunyai kualitas, terbaik , dan terukur kepada semua pasien tanpa memandang kondisi pasien. Maka, pendekatan jaminan mutu merupakan perangkat yang sangat diperlukan bagi perawat yang mengelola dan merencanakan asuhan keperawatan untuk menjamin bahwa layanan keperawatan yang diberikan kepada pasien benar – benar berkualitas dan aman bagi pasien.
Asuhan keperawatan yang bermutu adalah asuhan keperawatan yang senantiasa berupaya memenuhi harapan dan kepuasan pasien sesuai dengan kebutuhan pasien. Jaminan mutu dalam keperawatan mengedepankan outcome layanan keperawatan. Outcome layanan keperawatan yang bermutu hanya dapat dilakukan melalui proses asuhan keperawatan yang baik dan benar sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan. Dengan demikian, hasil dari konsistensi terhadap kepatuhan, konsistensi kebenaran terhadap prosedur dan standar asuhan keperawatan maka akan dihasilkan kualitas pelayanan keperawatan yang bermutu dan sesuai dengan harapan pasien.
B. KONSEP DASAR JAMINAN MUTU
Jaminan mutu dalam keperawatan merupakan suatu konsep yang pelaksanaannya tidak mempunyai akhir atau berkelanjutan karena sifatnya yang dinamis mengikuti kebutuhan pasien. Secara umum Pohan (2006) mendefinisikan mutu adalah sebagai suatu keseluruhan karakteristik barang atau jasa yang menunjukkan kemampuannya dalam memuaskan kebutuhan konsumen, baik berupa kebutuhan yang dinyatakan maupun yanhg tersirat. Konsep mutu tidak terlepas dari kata kualitas yang banyak sekali mengandung makna, diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Mutu adalah kualitas
2. Kesesuaian dengan tuntunan
3. Melakukan sesuatu sesuai dengan prosedur yang benar semenjak awal
4. Berorientasi kepada pemenuhan kebutuhan pelanggan semenjak awal proses
Keberhasilan layanan keperawatan maupun kesehatan yang bermutu merupakan layanan yang ditentukan oleh peran pemberi asuhan itu sendiri serta keterjangkauan jarak maupun finansial oleh pasien, keluarga dan masyarakat. Layanan yang bermutu merupakan sesuatu yang bersifat multidimensional. Adapun dimensi mutu pelayanan kesehatan menurut Brown dkk . (1992 dalam Effendi dan Makfudli, 2009) adalah sebagai berikut :
1. Dimensi kompetensi teknis
Dimensi kompetensi teknis adalah menyangkut keterampilan, kemampuan dan penampilan atau kinerja dari pemberi layanan kesehatan untuk mengikuti standar layanan kesehatan yang telah disepakati yang meliputi kepatuhan, ketepatan, kebenaran dan konsistensi. Tidak terpenuhinya dimensi kompetensi teknis dapat mengakibatkan berbagai penyimpangan kecil sampai pada kesalahan fatal yang akan dapat merugikan pasien dan keluarga dna tentunya menurunkan mutu layana kesehatan itu sendiri.
2. Dimensi keterjangkauan akses layanan oleh masyarakat
Dimensi ini mempunyai arti bahwa layanan kesehatan yang diberikan harus dapat dengan mudah diakses oleh masyarakat, tidak terhalang oleh kondisi geografis, sosial, ekonomi, organisasi dan bahasa.
3. Dimensi efektifitas layanan kesehatan
Mempunyai arti bahwa perawat harus memiliki kemampuan menghadapi segala permasalahan yang sedang dihadapi oleh pasien dengan mengurangi keluhan yang ada, mencegah terjadinya penyakit, dan atau meluasnya penyakit yang sedang diderita oleh pasien dengan strategi yang tepat, standar yang telah disepakati dan menggunakan potensi yang ada secara simultan.
4. Dimensi efisiensi layanan kesehatan
Dengan adanya keterbatasan sumberdaya yang ada dan tersedia, perawat harus mampu memberikan asuhan keperawatan kepada sebanyak – banyaknya pasien dan terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat.
5. Dimensi kesinambungan layanan kesehatan
Mempunyai arti bahwa layanan asuhan keperawatan dilakukan secara berurutan dan terdokumentasi dan tercatat dengan baik. Sehingga ketika pasien membutuhkan pelayanan asuhan keperawatan lanjutan atau rujukan ke fasilitas kesehatan lainnya, pasien tidak perlu mendapatkan terapi atau intervensi berulang yang tidak diperlukan oleh pasien.
6. Dimensi keamanan
Dimensi keamanan mempunyai arti bahwa setiap rencana dan implementasi asuhan keperawatan yang berikan harus dipastikan mempunyai jaminan kemanan bagi pasien, keluarga maupun masyarakat sekitar. Layanan asuhan keperawatan yang bermutu harus darus terbebas ddari resiko cedera, infeksi, efeksamping yang berlebihan, atau bahaya lainnya yang ditimbulkan baik dari penyakit atau asuhan keperawatan itu sendiri.
7. Dimensi kenyamanan
Dimensi kenyamanan ini berhubungan langsung dengan efektifitas asuhan keperawatan yang diberikan. Hal ini pula berhubungan dengan kepuasan pasien, keluarga dan masyarakat. Tolak ukur dimensi kenyamanan ini cukup mudah, yakni jika pasien, keluarga, dan atau masyarakat puas dengan kualitas asuhan keperawatan yang diberikan maka jika suatu saat terjadi masalah kesehatan akan kembali lagi untuk mendapatkan pelayanan karena rasa percaya yang sudah terbangun dan perasaan nyaman itu sendiri.
8. Dimensi informasi
Mempunyai arti bahwa, asuhan keperawatan yang bermutu harus mampu memberikan informasi dengan cara yang tepat, cepat dan akurat kepada pasien tentang apa, siap, kapan , dimana dan bagaimana pelayanan asuhan keperawatan diberikan kepada pasien.
9. Dimensi ketepatan waktu
Agar tujuan pelayanan asuhan keperawatan yang bermutu tercapai, maka asuhan keperawatan harus dilaksanakan dalam waktu dan cara yang tepat, oleh pemberi asuhan yang tepat, dengan menggunakan strategi daan metode yang tepat dan dengan biaya yang rasional (tepat).
10. Dimensi hubungan antar manusia / sesama `
Hubungan antara sesama manusia merupakan faktor yang penting untuk dimasukkan dalam dimensi jaminan mutu pelayanan asuhan kesehatan dan keperawatan. Pelayanan yang bermutu tidak akan pernah terlepas dari kualitas hubungan yang baik. Dengan hubungan yang baik antara pemberi layanan dan pasien , amaka akan menimbulkan kepercayaan ata kredibilitas, saling menghargai, saling menghormati, menjaga rahasia, responsif, memberi perhatian dan lain sebagainya.
C. PENTINGNYA JAMINAN MUTU BAGI ORGANISASI LAYANAN KESEHATAN
Beberapa pertanyaan mungkin muncul terkait hubungan dan peranan jaminan mutu dalam pelayanan keehatan. Salah satu diantaranya adalah ; mengapa jaminan mutu pelayanan kesehatan suatu menjadi hal yang harus diutamakan dalam pemberian pelayananan?. Hal tersebut dikarenakan karena berbagai alasan, yakni :
1. Dengan diterapkannya pendekatan jaminan mutu oleh pemberi layanan kesehatan, maka hal tersebut akan menjamin bahwa organisasi layanan kesehehatan tersebut menghasilkan pelayanan yang berkualitas bagi pasien, keluarga dna masyarakat.
2. Dengan menerapkan jaminan mutu dalam pelayanan akan menjamin suatu organisasi layanan kesehatan bekerja secara efisien
3. Dengan menerapkan jaminan mutu dalam pelayanan maka organisasi penyedia layanan kesehatan akan selalu dibutuhkan, dicari, dihormati, dan dikenal oleh pasien, keluarga, dan masyarakat karena mutu layanannya yang baik.
4. Dengan menerapkan jaminan mutu dalam pelayanan maka organisasi penyedia layanan kesehatan akan selalu memperhatikan outcomes layanan
5. Dengan menerapkan jaminan mutu akan menumbuhkan kepuasan kerja, komitmen, dan peningkatan moral profesi layanan kesehatan.
Bekerja dengan menggunakan pendekatan mutu akan melibatkan efisiensi kerja, dimana akan secara langsung menimbulkan efektifitas dan efisiensi beban kerja dari penyedia layana kesehatan. Mutu layanan kesehatan akan yang diterima pasien ditentukan oleh mutu layana yanhg diberikan oleh profesi organisasi layanan kesehatan . mutu layanan kesehatan juga ditentukan oleh mutu majagemen organisasi . dengan demikian hubungan timbal balik antara faktor – faktor tersebut dan menjadi satu kesatuan produk mutu layanan kesehatan. Penjelasan diaatas sebagaimana yang terdapat pada gambar 1.1 berikut ini.
Gambar 1.1 : konsep jaminan mutu layanan kesehatan
D. PARADIGMA PELAYANAN KESEHATAN BERBASIS MUTU
Pelayanan kepada masyarakat dimas yang akan datang seharusnya semakin lama semakin menunjukkan perbaikan (better), semakin cepat (faster), dan semakin mutakhir (newer), dengan biaya yang semakin murah (cheaper), serta proses pelayanan yang semakin sederhana (more simple). Manajemen mutu terpadu (total quality management) merupakan paradigma baru manajemen yang berusaha untuk meningkatkan daya saing organisasi dalam menghasilkan kualitas barang dan jasa melalui perbaikan mutu secara berkesinambungan. Menurut Tjiptono (1997, dalam Effendi dan Makhfudli, 2009) manajemen mutu terpadu hanya akan tercapai jika pemberi layanan memperhatikan hal – hal berikut ini.
1. Berfokus kepada pelanggan
2. Memiliki obsesi terhadap mutu
3. Menggunakan pendekatan ilmiah
4. Memiliki komitmen jangka panjang
5. Memiliki pola kerjasama tim yang baik
6. Melakukan perbaikan sistem secara berkesinambungan
7. Selalu melakukan peningkatan kapasitas melalui pendidikan dan pelatihan
E. STANDAR LAYANAN KESEHATAN
Jika suatu organisasi layanan kesehatan ingin menyelenggarakan layanan yang bermutu yang berkesinambungan, maka keinginan tersebut harus dapat dijabarkan dalam suatu standar operasional prosedur. Secara umum, definisi standdara layanan kesehatan adalah merupakan perrnyataan tentang mutu yang diharapkan, yakni menyangkut masukan (input), proses, dan keluaran (outcome) .
Pada faktor masukan (input) terdiri atas mutu petugas, bahan, alat, dan sebagainya, biasanya dikaitkan dengan penggunaan dan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Proses mencakup mutu kerja dan mutu pelayanan, biasanya memakai standar etika atau kepuasan rata – rata dari pasien atau komunitas. Sedangkan outcome biasanya dikaitkan dengan kinerja (performance) pemberi layanan kesehatan.
Mutu sangat berkaitan dengan istilah standardisasi. Sedangkan standardisasi itu sendir merupakan hasil atau luaran dari kegiatan pengelolaan mutu. Standardisasi merupakan suatu kegiatan yang bertujuan untuk mempertahankan hasil dan mencegah terjadinya penurunan mutu dari suatu organisasi penyedia layanan kesehatan.
Pentingnya standardisasi dalam sistem pelayanan kesehatan adalah untuk mencegah terjadinya perbedaan , variasi atau keberagaman prosedur pelayanan agar tidak keluar dari koridor standar yang telah disepakati. Sebagai contoh, seorang perawat dikomunitas melakukan perawatan luka kaki pada pasien – pasien dengan diabetes di komunitas. Dengan menggunakan standar layanan input-process-outcome maka perawat tersebut memastikan apa yang dilakukannya tetap didalam koridor mutu layanan. Standar input akan memastikan bahwa perawat menggunakan peralatan yang tepat, Standar process memastikan bahwa perawat menggunakan teknik, pengetahuan dan teknologi terbaru, dan standar outcome akan menjelaskan bahwa pelayanan yang telah diberikan sesuai dengan harapan organisasi maupun pasien.
F. PROGRAM JAMINAN MUTU
Kajian yang berkaitaan dengan proses peningkatan mutu sangatlah beragam. Namun, demikian sacar mendasar perbedaan kajian tersebut tidak jauh berbeda antara pakar satu dengan pakar yang lain. (Effendi dan Makhfudli, 2009). Menurut Muninjaya (2004), ada tiga pengertian dasar yang digunakan untuk memahami konsep jaminan mutu, diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Batasan manajemen mutu
Program jaminan mutu (quality assurance program) merupakan suatu upaya yang dilaksanakan secara sistematis dan berkesinambungan, sistematis dan terpadu, yang bertujuan untuk :
a. Menetapkan masalah mutu dan penyebabnya berdasarkan standar yang telah ditetapkan;
b. Menetapkan dan melaksanakan cara masalah sesuai dengan kemampuan yang tersedia;
c. Menilai hasil yang dicapai;
d. Menyusun rencana tindak lanjut untuk lebih meningkatkan mutu
Dari batasan tersebut dapat diketahui bahwa jaminan mutu merupakan sebuah proses yang dilakukan secara bertahap tetapi berkelanjutan, mulai dari identifikasi masalah mutu, mencari dan menerapkan solusi serta menilai hasilnya dlam bentuk peningkatan mutu dan penurunan biaya produksi. Beberapa istilah tenang program jaminan mutu yang sudah diperkenalkan oleh banyak pakar adalah sebagai berikut.
a. Program pengawasan mutu (quality control program)
b. Program peningkatan mutu (quality improvement program)
c. Manajemen mutu terpadu (tatal quality management)
d. Peneingkatan mutu berkesinambungan (continous quality improvement)
2. Tujuan program jaminan mutu
Organisasi yang hendak melakukan penerapan manajemen mutu, hendaknya merumuskan tujuan terebih dahulu.tujuan tersebut terdiri dari tujuan antara dan tujuan akhir. Tujuan antara adalah tujuan pengembangan mutu organisasi. Dalam penyusunan tujuan antara, pimpinan dan staf organisasi harus merumuskan masalah mutu pelayanan. Masalah mutu ini dijadikan dasar utnuk menetapkan tujuan peningkatan mutu yang ingin dicapai (benchmarking). Sedangkan, tujuan akhir ditetapkan untuk menjaga mutu pelayanan kesehatan adalah meningkatnya mutu prodiuk dan jasa pelayanan kesehatan. Tujuan ini terkait dengan kepuasan konsumen, termasuk turunnya biaya (cost) produksi jasa dari layanan yang diberikan.
3. Tahapan program jaminan mutu
Pengertian operasional jaminan mutu layanan kesehatan adalah upaya sistematis yang berkesinambungan dalam memantu dan mengukur mutu serta melakukan peningkatan mutu yang diperlukan agar mutu layanan kesehatan senantiasa sesuai dengan standar layanan kesehatan yang telah disepakati. Pada dasarnya tahap – tahap penyusunan standar layanan kesehatan dengan menggunakan pendekatan jaminan mutu adalah memunculkan pemikiran dan budaya sadar mutu, menyusun standar mutu yang ingin dicapai, mengukur apa yang dapat dicapai dalam suatu waktu, membuat rencana peningkatan mutu layanan kesehatan, melakukan peningkatan mutu layananan kesehatan yang diperlukan.
G. EVALUASI MUTU PELAYANA N KEPERAWATN KESEHATAN KOMUNITAS
Untuk dapat mengetahui mutu layanan dari suatu organisasi pelayanan kesehatan harus dilakukan evaluasi untuk mengetahui sejauh mana mutu layanan benar – benar memenuhi tuntutan kebutuhan. Untuk mengevaluasi mutu layanan terdapat tiga macam cara yang dapat dilakukan yakni, pengukuran mutu prospektif, pengukuran retrospektif dan pengukuran mutu konkruen. Adapun penjelasan mengenai ketiga jenis metode pengukuran mutu teresebut adalah sebagai berikut :
1. Evaluasi mutu prospektif
Pengukurna mutu prospektif artinya bahwa pengukuran mutu suatu layanan kesehatan dilakukan sebelum layanan tersebutdilaksanakan atau dengan menggunakan pandangan jauh kedepan. Pengukuran mutu prospektif ini dengan menggunakan asumsi lebih mengedepankan input dengan harapan agar dengan input yang terstandar akan menghasilkan produk layana kesehatan yang baik pula. Adapun beberapa struktur input evaluasi mutu dengan menggunakan pendekatan prospektif adalah sebagi berikut :
a. Pendidikan profesi kesehatan
Ditujukan agar penyelenggara pendidikan profesi kesehatan akan menhasilkan luaran yang mempunya pengetahian, keterampilan dan perilaku yang mendukung layanan kesehatan yang bermutu.
b. Perizinan
Adalah merupakan mekanisme untuk menjamin terstandarnya mutu oleh unsur penyelenggara layanan kesehatan. Contohnya sebagai perawat harus mempunyai SIP, SIK dan SIPP untuk dapat melakukan praktek pemberian asuhan keperawatan secara mandiri.
c. Standardisasi
Standardisasi ditujukan agas setiap falisitas yang digunakan oleh setiap unsur penyelenggara pelayanan kesehatan dapat menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang terstandar mutunya satu sama lain. Contoh konkritnya adalah, standar gedung, peralatan , sumber daya manusia, sistem, organisasi dan lain sebagainya.
d. Sertifikasi
Sertifikasi merupakan langkah lanjutan dari perizinan. Sertifikasi merupakan pengakuan produk atau suatu luaran yang sudah dianggap sesuai dengan standar mutu.
e. Akreditasi
Akreditasi merupakan pengakuan bahwa suatu organisasi atau institusi
layanan kesehatan sudah memenuhi beberapa standar tertentu.
2. Evaluasi mutu retrospektif
Metode evaluasi dengan pendekatan retrospektif merupakan penilaian mutu layanan setelah diselenggarakannya suatu layanan kesehatan. Comtoh kegiatan ini adalah seperti wawancara, kunjungan, pembuatan kuesioner dan lain sebagainya.
3. Evaluasi mutu konkruen
Adalah suatu metode pengukuran mutu yang dilaksanakan seama kegiatan layanan kesehatan berlangsung. Contoh konkritnya adalah melalui kunjungan langsung kepada suatu layananan kesehatan disertai dengan peninjauan catatan layanan kesehatan baik kepada perawat maupun bidang lainnya melalui psuatu kegiatan pertemuan serta mengevaluasi langsung kepada pasien dan keluarga.
Referensi bacaan lanjutan :
1. Allender et al., 2013. Community & Public Health Nursing, Promoting The Public Health 8th edition. Wolter Kluwer Health Lippincot William & Wilkins.
2. Brown, L.D. 1992. Quality Assurance Of Helath Care In Developing Country, Quality Assurance Project, Center For Human Services,. Bethesda, Maryland
3. Effendi. F dan Makfudli. 2009. Keperawatan Kesehatan Komunitas, Teori Dan Praktik Dalam Keperawatan. Jakarta : Salemba medika.
4. Muninjaya L.S .2007. Manajemen Kesehatan . Jakarta : EGC.
5. Pohan, I.S. 2007 . Jaminan Mutu Layanan Kesehatan: Dasar – dasar pengertian dan penerapan. Jakarta : EGC.
6. Sumber – sumber lain yang relevan
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar