REMAJA DAN BENCANA - LITERATURE REVIEW
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
** jika anda bermaksud mengutip postingan ini silahkan dikutip dengan tata cara kutipan blog -----> contoh : ada di link https://www.gramedia.com/best-seller/cara-menulis-daftar-pustaka-dari-internet/
ADOLESCENTS AS AGENTS OF CHANGE
Yuyud Wahyudi, MNS
A. Latar Belakang
Usia remaja merupakan usia yang sangat rentan terhadap berbagai masalah kesehatan, hal ini terkait dengan proses tumbuh kembang dan kecenderungan untuk memiliki perilaku beresiko (Allender et al., 2014) yang dapat menimbulkan resiko munculnya gangguan kesehatan, kecacatan bahkan kematian (WHO-SEARO, 2008).
Usia remaja adalah usia dimana seseorang mulai melakukan pencarian jati diri dimana pola perilaku dan pola pikir yang dimana juga akan menentukan pola perilaku pada saat mereka memasuki usia dewasa (Allender et al., 2014). Hal ini berarti jika pada usia – usia tersebut mereka mendapat pendidikan peningkatan kapasitas dan keterampilan tertentu tentu akan terbawa ketika mereka tumbuh menjadi orang dewasa, begitu pula sebaliknya
Hasil kajian ilmiah menyebutkan bahwa remaja yang diikutkan secara aktif dalam kegiatan – kegiatan sosial kemasyarakatan khususnya pada penanggulangan bencana, mereka akan menjadi agen penyebar informasi yang efektif bagi lingkungan sekitar dan khususnya bagi keluarga, teman sebaya dan masyarakat (Finnish et al., 2010, Cahill et al, 2010, Peltzer & Suupa, 2012; FEMA 2014). Terlebih remaja adalah aset masa depan bagi sebuah bangsa, dimana jika mereka mendapatkan pendidikan dan pengetahuan yang cukup maka akan berdampak pada kesuksesan penanggulangan kondisi kegawat daruratan dan bencana dimasa depan (Manesh, 2017).
Indonesia menempati rangking nomor satu dari 265 negara didunia yang potensial mengalami bencana alam tsunami dan urutan ke tiga dari 153 negara yang potensial terhadap bencana gempa bumi. Pada tahun 2009 dilaporkan sebanyak 249 gempa bumi telah terjadi dengan menelan korban lebih dari 5 juta korban jiwa (International Federation of Red Cross and Red Cresscents, 2010). Menurut BNPB, pada periode januari – februari 2015 saja telah terjadi sebanyak 223 kejadian bencana dan berdampak kepada lebih dari 80% korban manusia dan infrastruktur (Pustadinmas BNPB, 2015).
Akhir – akhir ini pemerintah dan masyarakat telah menyadari peran penting serta potensi remaja dalam upaya peningkatan ketangguhan kesehatan dan bencana yang ada dimasyarakat. Sebagaimana banyak kegiatan yang bisa dijumpai terkait dengan peningkatan kapasitas remaja dalam situasi kegawatdaruratan dan bencana. Namun demikian, seringkali berbagai kegiatan peningkatan kapasitas remaja yang dilakukan belum dapat memenuhi target kompetensi yang diharapkan. Hal ini dikarenakan oleh minimnya ketersediaan sumberdaya serta keberlanjutan dari program pelatihan yang ada (Manesh, 2017).
B. Permasalahan
Di indonesia, program - program peningkatan kapasitas masyarakat untuk menghadapi kondisi kegawatdaruratan bencana telah banyak dilakukan. Namun demikian, ketersediaan program khusus untuk remaja masih sangat terbatas. Hal ini terjadi karena persepsi bahwa remaja merupakan kelompok usia yang hampir selalu tersisihkan dalam upaya penanggulangan kegawatdaruratan kesehatan dan bencana (Cahill et al., 2010). Remaja lebih banyak diasumsikan sebagai aktor pasif atau sebagai kelompok rentan dalam upaya penanggulangan kegawatdaruratan kesehatan dan bencana dimasyarakat (Sommers, 2006). Demikian pendidikan guna peningkatan kapasitas gawat darurat kesehatan dan bencana dengan metode dan keberlanjutan program yang terukur sangat diperlukan bagi kelompok usia ini.
Pelatihan penanggulangan dan manajemen bencana merupakan stratgei yang cukup efektif bagi remaja, mengingat mereka adalah merupakan generasi penerus suatu bangsa. Dengan semakin banyaknya remaja yang mampu memahami perannya dalam kehidupan bermasyarakat, khususnya dalam situasi gawat darurat kesehatan dan bencana maka dampak buruk dari kekacauan situasi gawat darurat maupun bencana dapat terbantukan melalui peran serta aktif mereka secara tidak langsung dapat tercetak sumberdaya manusia penunjang ketangguhan bencana dimasa depan. Untuk menjawab pentingnya pendidikan dan pelatihan terkait kegawatdaruratan kesehatan dan bencana menjadi sangat penting untuk diberikan kepada remaja. Demikian signifikansi pelatihan Remaja Sadar Kesehatan dan Bencana (Radar Kesna) diperlukan untuk menjembatani kesenjangan terori dan praktek yang ada di Indonesia.
C. Peran remaja dalam ketangguhan bencana
Allender et al. (2014) mendefinisikan bencana sebagai “any natural or man-made event that causes sa level of destruction or emotional trauma exceeding the abilities of those affected without community assistant”. Definislain mengartikan Bencana sebagai suatu kejadian, yang disebabkan oleh alam atau karena ulah manusia, terjadi secara tiba-tiba atau perlahan-lahan, sehingga menyebabkan hilangnya jiwa manusia, harta benda dan kerusakan lingkungan, kejadian ini terjadi di luar kemampuan masyarakat dengan segala sumberdayanya (UN-ISDR, 2002). Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam, dan mengganggu penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau non-alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis (Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007)
Bencana apapaun yang terjadi dapat dibedakan menurut karakteristiknya. Allender et al. (2014) membagi 2 macam karakteristik bencana yakni, bencana alam “Natural Disaster”, dan bencana yang diakibatkan oleh hasil perbuatan manusia “man-made disaster”. Dampak bencana adalah akibat yang timbul dari kejadian bencana. Dampak bencana dapat berupa korban jiwa, luka, pengungsian, kerusakan pada infrakstruktur/aset, lingkungan/ekosistem, harta benda, penghidupan, gangguan pada stabilitas sosial, ekonomi, politik, hasil pembangunan dan dampak lainnya yang pada akhirnya dapat menurunkan tingkat kesejahteraan masyarakat.
Dalam perspektif individu, Allender et al. (2014) mengkategorikan korban bencana menurut level keterlibatannya yakni : (1) orang yang terlibat secara langsung dalam kejadian bencana, baik kebakaran, erupsi gunung berapi, perang atau ledakan bom baik dalam keadaan meninggal, masih bertahan hidup, atau yang tidak mengalami cedera, (2) sanak saudara atau teman dari seseorang yang terkena dampak langsung dari kejadian bencana. Meskipun pada kategori ini seseorang tidak mengalami dampak langsung akibat bencana, tetapi seringkali mengalami penderitaan akibat kehilangan maupun cemas saat melakukan proses pencarian korban.
Masa remaja adalah usia dimana seseorang mulai melakukan pencarian potensi jati diri, massa dimana seseorang menemukan pola kemandirian, dimana pola perilaku dan pola pikir akan menentukan pola perilaku pada saat mereka memasuki usia dewasa. Secara umum, masa remaja berkisar antara usia 10 dan 24 Ini terdiri dari masa remaja awal (usia 10-14), yakni remaja pertengahan (15-17), dan remaja akhir (18 hingga pertengahan 20an) (Allender et al., 2014). Remaja sebagai bagian dari kebudayaan (Sub-Culture) di masyarakat memiliki tugas untuk dapat menyelesaikan tugas tumbuh kembang yang sangat komplek. (Damon & Lerner, 2008).
Pada usia remaja, seseorang dituntut untuk dapat mandiri, mengendalikan perilaku seksual teerhadap lawan jenis, dan menerima pendidikan dan keterampilan sebagai persiapan dan bekal yang diperlukan ketika memasuki usia dewasa bersamaan menjalani pencaran identitas, mengembangkan nilai dan kepercayaan diri (Damon & Lerner, 2008; Dayan et al., 2010). Hal ini berarti jika pada usia – usia tersebut mereka mendapat pendidikan peningkatan kapasitas dan keterampilan tertentu tentu akan terbawa ketika mereka tumbuh menjadi orang dewasa, begitu pula sebaliknya.
Di masyarakat, sebagian besar orang dewasa mengasumsikan kelompok remaja sebagai kelompok yang penuh dengan ketidakjelasan peran dan memandang remaja sebagai kelompok yang belum mempunyai kapasitas utuh untuk berperan di masyarakat remaja sering dikelompokkan kedalam kelompok yang rentan terdampak resiko bencana. (FEMA, 2014; Cahill et al., 2010). Remaja lebih banyak diasumsikan sebagai aktor pasif atau sebagai kelompok rentan dalam upaya penanggulangan kegawatdaruratan kesehatan dan bencana dimasyarakat (Sommers, 2006). Sehingga, seperti yang nampak dimasyarakat bahwa remaja kurang berperan dalam penanggulangan bencana karena berdasarkan asumsi bahwa mereka adalah objek. Namun demikian, jika kelompok remaja diberikan kapasitas persiapan dalam kebencanaan yang adekuat maka akan banyak keuntungan yang didapatkan oleh masyarakat manakala suatu bencana terjadi (FEMA, 2014;
Remaja menjadi target potensi dalam membangun ketangguhan bencana. Hal ini berdasarkan hasil dari berbagai kajian du dunia yang menyimpulkan bahwa remaja yang diikutkan secara aktif dalam kegiatan – kegiatan sosial kemasyarakatan khususnya pada kondisi krisis kesehatan dan bencana akan menjadi agen penyebar informasi yang efektif bagi lingkungan sekitar dan khususnya bagi keluarga (Finnish et al., 2010; Cahill et al, 2010; Peltzer & Suupa, 2012; FEMA, 2014), teman sebaya, dan masyarakat sekitar (FEMA, 2014). Terlebih remaja adalah aset masa depan bagi sebuah bangsa, dimana jika mereka mendapatkan pendidikan dan pengetahuan yang cukup maka akan berdampak pada kesuksesan penanggulangan kondisi kegawat daruratan dan bencana dimasa depan (Manesh, 2017).
Akhir – akhir ini pemerintah dan masyarakat telah menyadari peran penting seta potensi remaja dalam upaya peningkatan ketangguhan kesehatan dan bencana yang ada dimasyarakat. Sebagaimana banyak kegiatan yang bisa dijumpai terkait dengan peningkatan kapasitas remaja dalam situasi kegawatdaruratan dan bencana. Namun demikian, seringkali berbagai kegiatan peningkatan kapasitas remaja yang dilakukan belum dapat memenuhi target kompetensi yang diharapkan. Hal ini dikarenakan oleh minimnya ketersediaan sumberdaya serta keberlanjutan dari program pelatihan yang ada (Manesh, 2017). Demikian pendidikan guna peningkatan kapasitas gawat darurat kesehatan dan bencana dengan metode dan keberlanjutan program yang terukur sangat diperlukan bagi kelompok usia ini.
REFERENCES
Dayan, J., Bernard, A., Olliac, B., Mailhes, A. S., & Kermarrec, S. (2010). Adolescent brain development, risk-taking, and vulnerability to addiction. Journal of Physiology—Paris, 104(5), 279–286.
Damon, W., & Lerner, R. (Eds.). (2008). Child and adolescent development: An advanced course. Hoboken, NJ: John Wiley & Sons, Inc.
Cahill et al. 2010. Adolescence In Emergencies. Australia : The university of Melbourne.
Khoraam - Manesh. A. Youth Are Our Future Assets In Emergency And Dissaster Management. Bull Emerg Trauma. 2017; 5 (1): 1 -3.
BNPB. 2015. Indo bencana : Informasi kebencanaan teraktual edisi Februari 2015. Pustadinmas Badan Nasional Penanggulangan Bencana.
Supa, Pengpid & Peltzer, Karl.2012. Injury and Social Correlates among in – School Adolescents in Four Southeast Asian Countries. Int. J. Environ. Res. Public Health.
Allender et al., 2013. Community & Public Health Nursing, Promoting The Public Health 8th edition. Wolter Kluwer Health Lippincot William & Wilkins.
Minami, H. Young-Soo, S. (2009). ICN Framework of Disaster Nursing Competencies.c 2009 World Health Organization and International Council of Nurses. ISBN 978-92-95065-79-6
Humanitarian Country Team Indonesia, Indonesia Contingency Plan. October 14, 2011. http://www.humanitarianresponse.info/system/files/documents/files/Contingency%20Plan.pdf
Pustadinmas BNPB.(2015).Info Bencana : informasi Kebencanaan Teraktual edisi februari 2015. Badan Nasional Penanggulangan Bencana
Badan Nasional Penanggulangan Bencana . (2011) . Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 8 Tahun 2011 Tentang Standardisasi Kebencanaan.
Federal Emergency Management Agency. (2010). Bringing youth preparedness education to the forefront: A literature review and recommendations. National Strategy For Youth Preparedness Education (Empowering, Educating and Building Resilience). U.S. Department of Homeland Security
Ronan KR, Johnston DM. Hazards education for youth: a quasiexperimental investigation. Risk Anal. 2003;23(5):1009-20.
Haynes K, Tanner TM. Empoweing young people and strengthening resilience:Youth-centred participatory video as a tool for climate change adaptation and disaster risk reduction. Children’s Geographies. 2015;13(3):357-71.
Anizar, 2009, Teknik Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Graha Ilmu, Yogyakarta.
BAPETEN, 2010, Peraturan Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir Nomor 6 Tahun 2010 tentang Pemantauan Kesehatan untuk Pekerja Radiasi, Badan Pengawas Tenaga Nuklir, Jakarta.
Ridley, John, 2006, Ihtisar Kesehatan dan Keselamatan Kerja, Edisi Ketiga, Erlangga, Jakarta.
Wibowo, Ardi Soesilo, dkk. 2013, Materi Diklat Petugas Proteksi Radiasi Bidang Radiodiagnostik, Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang, Semarang.
Mary Doherty and Severa von Wentzel. Malnutrition. Médecins Sans Frontières / Doctors Without Borders (MSF) UK.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar